Dianggap Manjakan PNS Pemdes Putat Dikritik

2690

PATUK – Minggu Kliwon | Kebijakan pembangunan yang diputuskan Pemerintah Desa, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, sebagian dianggap tidak tepat sasaran. Pemdes Putat dikritisi karena dianggap terlalu memanjakan warga kategori PNS.

Budi Susanto, tokoh asal Padukuhan Putat Wetan, mengkritisi paket pembangunan perkerasan jalan lingkungan pada kesempatan diskusi internal.

Budi Susanto yang sekaligus anggota LPMP setempat menyayangkan, bahwa rabat jalan menuju ke arah rumah perseorangan rawan menimbulkan kecemburuan sosial.

“Warga menerima penjelasan perangkat desa yang membidangi pembangunan, Padukuhan Putat Wetan memperoleh dana rabat jalan senilai Rp 19 juta,” ujar Budi Susanto, (30/11/19).

Video Viral:

Dana tersebut menurut pemahaman Budi Susanto, dipergunakan untuk memperkeras jalan lingkungan, lebar 4 m panjang 70 m.

Menurutnya, rabat jalan itu diletakkan di posisi yang tidak tepat, karena mengarah  ke rumah warga kategori cukup mampu.

“Rabat tersebut menuju rumah 3 KK yang kesemuanya adalah pegawai negeri sipil,” tandas Budi Susanto.

Mewakili sebagian besar KK Padukuhan Putat Wetan dia menilai, keputusan yang diambil Kepala Desa bersama BPD tidak sesuai dengan visi  misi Pemerintah Pusat.

“Mosok Pemdes memberdayakan PNS, sementara warga kurang mampu malah terabaikan,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sukardi Kepala Desa Putat menyatakan, sebelum diputuskan tempat yang harus dirabat, berkali-kali ditanyakan kepada Dukuh setempat.

“Saya bertanya ke Pak Dukuh Putat Wetan mengenai kemungkinan pertanyaan warga. Dia bilang warga setuju, ya program pun berjalan,” papar Sukardi.

Menyimak pro kontra rabat jalan, warga yang enggan disebut namanya menyatakan agak sarkasmik.

“Nama jalan itu perlu dikukuhkan menjadi Jalan PNS,” ungkapnya ketus. (Bambang Wahyu Widayadi)




2 thoughts on “Dianggap Manjakan PNS Pemdes Putat Dikritik

  1. AvatarAnonim

    semoga menjadi perhatian dan pembelajaran pd yang terkait dengan pelaksana program pemerintah, yang selama ini banyak hal terkesan melupakan dasar ideologi negara Indonesia. Mungkin karena terlalu banyak hal yng mempengaruhi sehingga tidak disadari dalam proses pelaksanaan pembangunan tersebut lepas dari azas nilai nilai budi pekerti yang luhur, kegotong royongan, mendahulukan kepentingan orang banyak , yang akhirnya malah berdampak sebaliknya,,,tidak bisa mencapi pembangunan yang adil dan merata, otomatis harapan mempersatukan bangsa ini, menjadi semakin jauh terwujudnya.

  2. Avatarsumino

    Kalo masih ada jalan yg lebih parah ya di prioritaskan
    Biar gak jadi kesenjangan ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.