Gerandong Ancam Petani Brambang di Gunungkidul

6655

WONOSARI-SELASA KLIWON | Harga jual komoditas bawang merah di Kabupaten Gunungkidul anjlok. Selain banyaknya pasokan dari luar, Gerandong juga menjadi salah satu ancaman meruginya petani brambang di Padukuhan Blimbing, Kalurahan Karangrejek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Salah satu petani brambang Rustinah menuturkan, ia memilih hasil panen brambang miliknya dibawa pulang untuk diecer di warung-warung maupun dijual secara online, Selasa (26/09/2023).

“Kemarin cuma ditawar 7 juta padahal tahun lalu dibeli sekitar 15 juta,” tuturnya.

Petani yang juga sekaligus Dukuh Blimbing tersebut menyampaikan, bahwa lahan brambang miliknya menghabiskan benih hingga 50 kg yang ia beli dengan harga 55 ribu per kilo.

Dengan modal tersebut, Rustinah biasanya mendapatkan uang kurang lebih 15 juta dari hasil penjualan brambang miliknya.

“Tahun kemarin laku 15 juta tapi sekarang hanya ditawar 7 juta, ” jelasnya.

Anjloknya harga jual brambang menurut beberapa petani akibat dari banyaknya pasokan brambang dari luar Gunungkidul.

Selain hal tersebut, penyakit Gerandong juga menjadi ancaman gagalnya panen bagi para petani. Menurut mereka gerandong merupakan salah satu jenis penyakit yang sulit untuk ditanggulangi.

“Daun brambang berubah jadi putih dan didalamnya ada semacam serangga keci-kecil”, jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan Sumani, yang saat ini berharap hasil panen cabai dapat mengembalikan kerugian panen brambangnya.

Namun demikian saat ini harga jual cabai juga mengalami penurunan. Meski tidak terlalu drastis namun hal tersebut sangat dirasa bagi petani.

“Semula 14 ribu, kemudian turun menjadi 12 ribu, sekarang 9 ribu,” ucap Sumani.

Selain ganasnya ancaman gerandong petani juga mendapat ancaman Penyakit Musarium. Penyakit ini hampir tidak ada tanda-tandanya.

Meski berbagai pencegahan telah dilakukan namun hingga kini penyakit tersebut masih menjadi momok bagi para petani.

“Awalnya layu terus langsung mengering mati,” jelasnya.

Guna penanggulangan hal tersebut, berbagai cara sudah diupayakan, salah satunya yakni penyuluhan dan pendampingan dari Dinas Pertanian.

Sementara menurut Sumani, air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman harus mereka beli dengan harga 80 ribu per jam. Air mereka tampung di dalam kolam kemudian disedot menggunakan disel untuk menyiram tanaman kapan dibutuhkan.

“Itupun pupuk kandang sama tenaga tidak kami hitung,” ucap Sumani.

Para petani berharap agar pemerintah dapat lebih memperhatikan petani brambang dan cabai di gunungkidul agar petani tidak terancam mengalami kerugian.

Selain itu bantuan benih dari pemerintah juga mereka harapkan bisa didistribusikan seperti tahun sebelumnya.

“Tahun 2022 pernah mendapat bantuan benih brambang tapi ditahun 2023 ini tidak ada bantuan lagi,”ucap Sumani.

Salah satu petani brambang dari wilayah alas condong yang enggan disebutkan namanya juga menyampaikan hal yang sama, menurutnya saat ini petani brambang mengalami kerugian.

“Rego brambang anjlok petani bangkrut,” pungkasnya.

A Yuliantoro




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.