Harga Pasar Tidak Stabil, Petani Cabai Kecewa

922

WONOSARI-KAMIS WAGE | Sektor perkebunan menjadi salah satu bisnis yang tidak pernah mati. Salah satunya budidaya tanaman cabai, menjadi salah satu bisnis yang menguntungkan. Selain modalnya kecil, budidaya cabai ini tergolong tidaklah sulit. Harga pasar yang tidan stabil tetap menjadi kendala petani cabai.

Dalam budidaya cabai pengendalian hama menjadi hal penting untuk diperhatikan agar tanaman cabai dapat tumbuh baik dan berbuah maksimal seperti harapkan.

Budidaya cabai bukan berarti tanpa kendala. Memasuki musim panen harga cabai di tingkat petani sering mengalami penurunan. Anjloknya harga cabai ditengarai karena banyaknya stok cabai di pasaran.

 

 

Seperti halnya yang dialami oleh Jumakir warga Padukuhan Siraman l, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari Kabupaten Gunungkidul DIY. Ia sedikit kecewa lantaran harga menurun, sehingga berpengaruh dengan pendapatan yang ia peroleh dari hasil panenya.

Untuk harga cabai saat ini hanya Rp. 11.000,- (sebelas ribu rupiah) per kilogram, walaupun sebelumnya mencapai Rp 15.000,- (lima belas ribu rupiah) per kilogramnya.

“Harga cabai mulai dari Rp.15.000 rupiah, belum lama sampai turun menjadi Rp. 5.000 rupiah kembali naik ke Rp. 8.000 rupiah dan saat ini ke harga Rp. 11.000 rupiah, itupun sudah termasuk lumayan dibandingkan beberapa waktu lalu sampai merosot tajam,” katanya saat di temui di lahan miliknya, Rabu (01/07/2020).

 

 

Jumakir mengatakan, dalam jangka 60 sampai 70 hari, ia sudah memulai memanen. Menurutnya, satu kali panen menghasilkan 1 hingga 2 kwintal.

Pada sekali tanam, Jumakir merinci, setindaknya dapat memanen hingga 15 kali di lahan seluas 5000 m².

“Dii lahan seluas 5000m² saya dapat memetik 15 kali, rata-rata saya mendapatkan 22,5 kwintal cabai rawit merah dan cabai hijau panjang,” pungkas Jumakir. (Hery)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.