Penemuan Batu Nisan di Gunungkidul Diyakini Makam Syekh Ibrahim Tahun 474 H

1075

GUNUNGKIDUL-MINGGU PON | Warga Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul digemparkan dengan penemuan nisan beserta sebuah batu prasasti di Puncak Gunung Panangkilan baru-baru ini. Batu nisan bertuliskan Huruf Arab Gundul tersebut diyakini sebagian masyarakat setempat merupakan Makam Syekh Ibrahim.

Menurut keterangan warga, penemuan makam tersebut berawal pada tahun 2021 silam. Sebelumnya kondisi tanah tempat ditemukanya makam tersebut sama dengan tanah pada umumnya, tidak menunjukan tanda-tanda yang mencurigakan.

Namun demikian, Kecurigaan tentang keberadaan makam tersebut muncul dari salah seorang tokoh masyarakat yang merasa mendapatkan wangsit, bahwa ada sesuatu yang terpendam di Puncak Gunung Panangkilan.

Warga yang penasaran lantas menggali tanah di puncak gunung yang terletak tepat di atas Goa Pindul tersebut, dan benar adanya, mereka menemukan sebuah lubang galian yang menyerupai liang lahat.

“Tiap kesini baunya wangi, pasti ada sesuatu yang terpendam,” ujar warga.

Tak lama kemudian, sekitar dua bulan setelahnya, warga kembali dihebohkan dengan ditemukanya bongkahan batu bertuliskan Huruf Arab Gunul yang hingga kini belum diketahui makna dari tulisan tersebut.

“Batu prasasti ditemukan saat itu hujan disertai petir,” ujar salah satu warga.

Meski demikian, warga belum mengetahui liang lahat tersebut kuburan siapa dan sejak kapan keberadaanya, lantaran selama ini belum pernah ada yang menceritakan keberadaan makam tersebut.

Giyarno, warga setempat mengatakan bahwa, warga baru dapat meyakini bahwa liang lahat tersebut merupakan kuburan seorang Waliyulloh Syekh Ibrahim, setelah ditemukanya sebuah batu nisan di dekat liang lahat dan bertuliskan Huruf Arab yang berbunyi Syekh Ibrahim tertanggal 1 bulan 10 tahun 474 Hijriyah pada tanggal (09/09/2023).

Peristiwa di luar nalarpun terjadi saat ditemukanya batu nisan tersebut. Tanah yang mengubur batu tersebut dalam kondisi basah meski tanah disekitarnya kering lantaran kemarau panjang.

“Posisi batu nisan persis di bawah tempat saya duduk, saat itu tanah yang di dalamnya basah,” jelasnya.

Selanjutnya, oleh salah satu pengasuh pondok pesantren di Giriloyo Bantul KH Ahmad Zabidi Marzuqi, batu nisan tersebut dipasang pada posisi yang semestinya.

Giyarno juga menyampaikan, selain mulai ditata oleh warga sekitar, beberapa peziarah juga mulai berdatangan.

“Beberapa ulama dari pulau jawa sudah ada yang kesini, termasuk salah satunya Gubernur Jambi,” pungkasnya.

A Yuliantoro

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.