Pertumbuhan Ekonomi Dilihat Dari Sisi Barang Dan Jasa, Ibarat Orang Piara Kucing

710

WONOSARI-JUMAT LEGI | Pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dari berbagai sisi. Salah satu di antaranya dari sisi produksi barang dan jasa.

Ihwal mempertinggi angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gunungkidul dilihat dari ketersediaan produk, Benyamin Sudarmadi (BSM) membuat analogi sederhana.

Ibarat Gunungkidul itu orang yang hendak makan, logikanya mengambil nasi diikuti sayur, dan mungkin telur. Endingnya perut kenyang dan energi bertambah, fisik siap diajak kerja keras.

Menjadi aneh, jika jeruk santang madu dimakan lebih dulu. BSM bilang, tidak bakal menambah energi, kecuali sebatas penyegar mulut belaka. Alasannya, jeruk adalah suplemen atau vitamin, bukan karbohidrat.

Singkat kata, membangun pertumbuhan ekonomi dari sisi jenis produksi barang, adalah butuh prioritas.

“Pertumbuhan ekonomi terutama produk barang adalah energi daerah. Dari sekian potensi Gunungkidul perlu dipilih yang memang bobotnya besar guna mengatrol pertumbuhan,” terang BSM, 23-2-2023.

Dia mencoba kukuh pada doktrin yang diciptakan dalam berbagai pertemuan, Dalan Amba, Banyu Rata.

BSM tahu bahwa penyumbang pertumbuhan ekonomi di Gunungkidul ada 17 sektor, karena dia membuka dokumen Gunungkidul dalam angka.

“Tujuh belas sektor itu semua butuh dukungan infrastruktur. Maka saya bertahan pada doktrin saya sendiri: Dalan Amba Banyu Rata,” tegasnya.

Di samping barang, penyokong terbesar kedua yaitu jasa. Yang sudah kelihatan sumbangannya adalah industri jasa pariwisata.

“Bali bisa hebat karena pariwisata. Mengapa Gunungkidul tidak? Kita harus dorong pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata,” tegas BSM.

Dia menunjuk contoh negara tetangga Singapura. Pertumbuhan ekonomi lumayan tinggi.

“Padahal negeri persemakmuran itu mengandalkan jual jasa. Saya bilang negeri Calo,” terang BSM.

Pertumbuhan ekonomi Gunungkidul menurutnya tidak hanya ditopang oleh perdagangan barang dan jasa, tetapi fakta hari ini tidak bisa dipungkiri.

Ibarat piara kucing, para tokoh tidak perlu berdebat kucing hitam atau putih, yang penting kucing itu bisa menangkap tikus.

“Artinya, kita tidak perlu ribut, mana yang didahulukan perdagangan barang atau jasa, yang penting pertumbuhan ekonomi bisa naik, tidak hanya 5,22% seperti tahun 2021,” pungkas BSM.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.