Selain Telepon Gusti Allah, Mbah Ibnu Mengaku Mendapat Perintah Nikah Lagi

3287

GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON | Terkait Jamaah Aolia di Kabupaten Gunungkidul Pimpinan Ibnu Hajar yang telah viral lantaran menentukan awal dan akhir Puasa Ramadhan menggunakan metodologi “kontak” batin dengan Allah, direspon oleh Perwakilan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (6/4/24).

Rapat Gabungan Syuriyah & Tanfidziyah PWNU DIY (6/4), memutuskan untuk mengutus tim guna melakukan “pembinaan” terhadap Pimpinan Aolia Ibnu Hajar.

Dikutip dari laman facebook, berikut reportase yang disampaikan oleh Kiai Fajar Abdul Bashir salah satu anggota tim yang ditugaskan bersilaturahmi mendatangi kediaman Ibnu Hajar.

“Alhamdulillah, sekitar jam 11.00 WIB kami bersama tim telah selesai bersilaturahim kepada mbah Ibnu Hajar,” tulis reportase yang diunggah di www.facebook.com

Dari hasi pertemuan tersebut, Mbah Ibnu begitu panggilan akrabnya, telah menjelaskan penentuan awal dan akhir Ramadhan memakai metodologi “kontak” batin dengan Allah.

“Kontak batin itu kemudian dia menyebutkan sebagai derajat wusul ilallah. Wusul ilallah yg difahami Mbah Ibnu Hajar adalah bisa berkomunikasi dengan Allah,” jelasnya dalam poin ke dua.

Sementara, poin selanjutnya menyebut bahwa Derajat wushul ilallah versi Ibnu Hajar dimulai pada tanggal 21 November 2021 saat berziarah di Makam Syech Jumadil Kubro.

“Dia mengatakan bisa berkomunikasi dengan Syech Jumadil Kubro dan dinyatakan telah sampai ke derajat wushul. Derajat wushul ilallah menurut Mbah Ibnu Hajar semakin kuat ketika berkomunikasi dengan Syech Assmarqandi yang menyuruhnya menikah lagi,” tambahnya.

Dari apa yang disampaikan Ibnu Hajar, dapat difahami bahwa metodologi yang digunakan sudah tidak sesuai dengan syariat. Oleh karenanya Syuriyah & Tanfidziyah PWNU DIY menyampaikan beberapa poin penting terhadap Pimpinan Aolia di Gunungkidul Tersebut.

1. Mbah Ibnu, Metodologi penentuan awal dan akhir Ramadhan yang mbah Ibnu Hajar pakai sudah tidak sesuai dengan aturan syariat.

2. Aturan syariat yang didawuhkan Allah dan Nabi Muhammad SAW tidak melalui “kontak” batin, akan tetapi melalui rukyatul hilal atau tafsir lain wujudul hilal.

3. Mbah Ibnu, Nabi Muhammad tidak hanya seorang Nabi, tapi sekaligus Rasul. Dimana tingkat wusulnya Nabi Muhammad kepada Allah tentunya tidak ada yang menandingi. Toh beliau tetap perintah kepada para sahabat untuk melakukan rukyatul hilal. Artinya, Nabi Muhammad yang tingkat wusulnya melebihi siapa pun, tetap melaksanakan penetapan awal dan akhir Ramadhan memakai metode rukyatul hilal atau wujudul hilal, bukan memakai “kontak”.

“Kemudian saya menyampaikan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits tentang penetapan awal dan akhir Ramadhan,” ungkapnya.

Beberapa poin tersebut, meski tidak 100 % dapat difahami oleh Ibnu Hajar, lantaran faktor usia dan sudah berkurang pendengarannya, namun sebagai tim yang diutus merasa agak lega.

“Meskipun menurut saya ini harus dilakukan beberapa kali agar beliau benar-benar bisa memahami,”ujarnya.

Mbah Ibnu yang digambarkan melalui tulisan dan diunggah di akun facebook milik Akhmad Musta’in tersebut merupakan sosok yang baik, supel, suka bergurau, dan sangat welcome (terbuka) adanya pendapat lain.

“Sangat jarang orang yang sudah punya pendirian seperti itu mau diajak berdialog. Biasanya mau benarnya sendiri.

Tapi lain dengan Mbah Ibnu, sangat welcome,” terang reportase tersebut.

Selain itu, beberapa berhasil disepakati sebelum mengakhiri pertemuan tersebut, diantarnya sebagai berikut:

– Jika kelak dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan mbah Ibnu Hajar tetap meyakini “kontak” itu sebagai sebuah keyakinan dan tidak bisa dirubah, kita sarankan agar dipakai sendiri dan tidak mempublikasikan dan tidak mengajak-ajak masyarakat.

– Jika ada masyarakat atau jamaah yang bertanya, kita sarankan agar mbah Ibnu menganjurkan jamaahnya mengikuti NU atau Pemerintah.

“Demikan, semoga kita semua mendapatkan petunjuk Allah SWT,” pungkasnya.

(red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.