Setelah 300 Tahun Disimpan Pusaka Demang Wonopawiro Dijamasi

525

WONOSARI- JUMAT PAHING | Bulan Muharram atau biasa disebut Bulan Suro memang spesial bagi masyarakat Jawa. Berbagai tradisi sering mereka lakukan di bulan Suro seperti sekarang ini. Mereka juga menganggap Bulan Suro membawa berkah tersendiri.

Seperti halnya yang dilakukan oleh keluarga Raden Ngabehi Wonopawiro Demang Pademangan Piyaman. Keluarga pendiri atau cikal bakal kabupaten Gunungkidul ini melakukan jamasan pusaka pada hari-hari terakhir bulan Suro.

Tepat pada hari Kamis, (17/09/2020) sore, atau dalam kalender Jawa masuk pada hari Jumat Pahing keluarga besar Demang Wonopawiro melaksanakan jamasan pusaka peninggalan leluhur mereka. Diawali dengan tahlilan yang dipimpin oleh tokoh agama Islam di Padukuhan Ngrebah, Kalurahan Piyaman Kepanewonan Wonosari, gelaran jamasan pusaka peninggalan Demang Wonopawiro dilaksanakan.

Menurut cucu buyut Demang Wonopawiro Harjana, kali ini berbeda dengan jamasan- jamasan pusaka sebelumnya. Kali ini hampir semua pusaka peninggalan Demang Wonopawiro dikeluarkan untuk dijamas.

“Ada pusaka yang baru dikeluarkan saat ini setelah 300 tahun disimpan, dan kali ini memang spesial. Apalagi ada kerabat Sri Sultan HB VIII yang datang,” ucapnya.

Puluhan orang nampak memadati kediaman Demang Wonopawiro untuk mengikuti prosesi jamasan pusaka tersebut. Nampak cucu Sri Sultan HB X, Gusti Kukuh Hestarining bersama istri menghadiri dan memimpin rangkaian prosesi jamasan pusaka Demang Wonoprawiro.

Sebelum prosesi jamasan yang diawali dengan tahlilan dimulai, mereka melakukan ziarah kubur ke makam Ki Demang Wonopawiro yang letaknya sekitar 200 meter dari kediaman Demang Wonopawiro.

Beberapa benda pusaka yang dijamas kali ini yakni, Gamelan, Tombak, Keris dan Besi Kuning. Ada beberapa pusaka seperti tombak dan keris yang baru dikeluarkan kali ini setelah tersimpan rapi selama 300 tahun lamanya. Berbagai pusaka tersebut dijamas dengan air dari 7 sumber mata air yang telah dicampur dengan kembang 7 rupa.

“Jamasan ini sudah turun temurun kami laksanakan,” ungkapnya.

Gusti Kukuh Hestarining atau Gusti Ning mengatakan, bahwa dengan jamasan ini diharapkan masyarakat Gunungkidul bisa menauladani kembali semangat perjuangan Ki Demang Wonopawiro. Sosok lelaki yang mampu membuka Alas Nongko Doyong menjadi Kabupaten, Kabupaten Gunungkidul sekarang.

“Raden Demang Wonopawiro adalah tokoh sekaligus perjuang melawan VOC,” jelasnya.

Gusti Kukuh demikian nama panggilanya mengisahkan, bahwa Demang Damar atau Demang Wonopawiro, bermodal tekad meyakinkan diri, apabila harus mati saat membuka hutan tersebut, maka itu pun sebagai wujud pengorbanan demi titah sang raja.

Apabila berhasil, maka itu pun sebagai wujud bakti dirinya pula terhadap kerajaan, seraya berharap siapa tahu anak cucu kelak ikut merasakan atau menikmati ketika wilayah itu menjadi kota atau wilayah yang makmur.

Menurut riwayat, konon upaya Demang Damar dan para pengikutnya dalam membuka hutan tersebut berhasil. Sang Raja Yogyakarta menghargai keberhasilan Demang Damar dan memberikan nama baru kepadanya menjadi Wanapawira.

“Nama baru tersebut berarti Wana adalah Alas, sedangkan Pawira mengandung arti kaprawiran atau sifat kesatria atau pemberani,” katanya. (Hery)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.