WONOSARI – Selasa Pahing | Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul ingin berpartisipasi menekan angka kemiskinan. Caranya melalui Festival Film Gunungkidul-1 tahun 2019.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Agus Kamtono menyatakan hal di atas dalam kesempatan berbincang-bincang dengan awak media 27/11/19 silam.
VIDEO TERBARU :
Sebagian pengamat dan pelaku meragukan, bahkan menilai bahwa pernyataan Kadinas Kebudayaan Gunungkidul tidak realistis.
“Membuat film meski itu berdurasi super pendek membutuhkan modal relatif besar,” ujar Heri Sulistyo Sineas muda asal Semanu, (3/12/19).
Menurutnya, melahirkan karya film berdurasi 15 menit, entah itu profil, dokumenter atau fiksi, membutuhkan dana operasional 7 hingga 10 juta rupiah.
Itu, demikian kata Heri Sulistyo, belum ditambah alat produksi.
Diminta menginventarisir keperluan alat, dia memaparkan, Drone mavic pro Rp 24 juta, 2 unit Sony NX100 Rp 33 juta, 1 unit Sony A6300 + lensa R 18 juta, Stabilizer Rp 5 juta, Tripod Rp 2 juta; reflector Rp 200 ribu, dan lampu Rp 6 juta.
“Ditotal, kebutuhan alat mencapai Rp 86 juta lebih. Jadi Sineas itu bukan warga kategori miskin. Anggapan Dinas pasti salah kamar,” krtik Heri Sulityo meluruskan. (Bambang Wahyu Widayadi)
GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…
GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…
YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…
GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…