POLITIK

HM Idham Samawi : Pancasila Jatidiri Bangsa Indonesia

TANJUNGSARI, Minggu Wage–Bangsa Indonesia terdiri lebih dari seribu suku, bahasa dan watak yang berbeda-beda. Dari Sabang sampai Merauke, sejak Miangas hingga Pulau Rote memiliki keragaman adat istiadat dan budaya yang berbeda. Tanpa Pancasila, niscaya bisa dipersatukan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Disampaikan Anggota Komisi V DPR RI, Drs HM Idham Samawi kala menggelar sarasehan Pancasila pribadi bangsa di Pendopo Kantor Kecamatan Tanjungsari, Sabtu malam (09/12). Budaya lokal berupa seni tari, dagelan guyon maton hingga jathilan ditampilkan dalam acara ini.

“Kita patut prihatin sekarang budaya media sosial sedang melanda masuk ke negeri kita. Salah satu upaya jitu untuk menangkal arus budaya asing itu adalah penguatan budaya lokal seperti malam ini,” terangnya.

Lebih lanjut Idham menjelaskan, kelima sila dalam Pancasila adalah perekat utama kebinekaan Bangsa Indonesia. Walaupun berbeda suku ada Jawa, Batak, Madura, Bugis, dan lainnya semua dipersatukan dengan Pancasila.

“Padahal kita ini lebih dari seribu suku, budaya, adat istiadat bahkan bahasa yang berbeda. Masing-masing suku punya bahasa sendiri, namun kenapa bisa menyatu ? Itulah hebatnya Pancasila,” lanjut Idham.

Idham Samawi mencontohkan, Uni Sovyet dahulu adalah negara besar dengan ratusan suku dan adat berbeda, saat ini hancur dan terhapus dari peta dunia. Demikian juga Yugoslavia yang hanya dengan 30 suku, sekarang hancur lebur tercerai berai.

“Maka agar Pancasila tetap eksis, budaya lokal kita kuatkan untuk mempersatukan Indonesia. Jika kita lestarikan terus, tidak akan ada ceritanya budaya kita di klaim negara tetangga, tegasnya.

Politikus PDI Perjuangan ini berjanji, akan membawa penguatan budaya lokal ini ke Badan Sosialisasi MPR RI agar ditindak lanjuti secara komprehensif. Untuk wilayah DIY, dengan besarnya Dana Keistimewaan Yogyakarta Idham berharap bisa membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak.

“Harus ada langkah konkret agar Danais tidak muspro (sia-sia). Regulasinya harus ditata ulang atau dibenahi agar masyarakat Yogyakarta tak hanya menjadi penonton,” paparnya.

Salah satu yang harus dibenahi misalnya pengadaan bantuan gamelan untuk desa/kelompok seni tidak boleh dilelangkan. Pelaksanaannya adalah memberi peluang perajin-perajin gamelan asal DIY mendapatkan pemasukan dari pengadaan gamelan. Sebab jika dipihak ketigakan, maka pemenang lelang akan mencari produk gamelan luar DIY yang harganya lebih murah dan akhirnya membuat perajin gamelan lokal gigit jari. Red

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

3 hari ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

2 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

2 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

3 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

3 minggu ago