BUDAYA

Hujan Musim Kemarau: Antara Analisis Ilmiah Dan Klenik

BANYAK hujan mengeluh, sedikit hujan menggerutu. Itu bagian dari karakter manusia.

Mangsa Ketiga yang umum dikenal dengan terminologi kemarau, mestinya hujan sudah berhenti. Mengapa masih juga turun?

Juli 2023, sepertinya ada penyimpangan. Sejumlah ahli cuaca dan pakar iklim menganalisis berdasarkan keilmuan yang mereka kuasai.

Iklim global berpengaruh besar terhadap kecenderungan turunnya hujan di musim kemarau.

Gelombang Kelvin sebuah dinamika atmosfer mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala luas.

Dari sisi primbon Jawa fenomenanya lain lagi. Seorang pemerhati lingkungan menduga bahwa itu sebuah akibat karena Nyi. Rara Kidul sedang patroli dengan kereta khas tumpangannya.

Efek ronda wilayah Ratu Kidul mengakibatkan percikan air laut nyiprat membasahi bumi. Bisa saja ini hanya kelakar klenik yang tidak perlu diperhatikan.

Klenik atau bukan klenik, Betaljemur Adamnakna, ada hitungan tersendiri. Ilmiah atau tidak ilmiah, itu perkara yang berbeda. Yang jelas buku peninggalan leluhur itu kandang tepat kadang meleset. Tidak selalu persis seperti yang tertulis di dalamnya.

Banyak sedikitnya hujan dipengaruhi oleh permulaan tanggal 1 Sura tahun berjalan.

Pergantian tahun berdasarkan penanggalan Sultan Agung dimulai tanggal 1 Sura.

“Akeh sethithiking udan manut watak siji-sijine tahun, tibane ing tanggal sepisan wulan Sura. Ing kono tiba dina apa,” Betaljemur Adamnakna halaman 217, item 306.

Tahun 2022 tanggal 1 Sura jatuh hari Sabtu Pahing, Wuku Marakeh, jumlah hari dan pasaran 18.

Karakter tanggal 1 Sura Sabtu Pahing menurut primbon adalah tumpak menda. Artinya jarang hujan tanaman tidak bagus.

Fakta yang dihadapi sangat berbeda dengan yang tertulis di dalam primbon, justru banyak hujan, padahal bulan Juli 2023 masuk bilangan Mangsa Kasa.

Menurut kalender pranata mangsa kategorinya adalah terang, tanpa hujan. Lapangan berkata sebaliknya.

Bulan Juli 2023 pada hari ke-19 tepat tanggal 1 Sura jatuh pada hari Rabu Legi 1957 tahun Jawa berbarengan dengan kalender Hijriyah 1445.

Rabu Legi, menurut Betaljemur karakternya Buddha Mahesaba. Itu bermakna hujan luar biasa.

Ada kecenderungan bahwa tahun 2023-2024 hujan tanpa spasi. Apa benar demikian, perlu ditunggu bersama, sebab hujan panjang atau pendek adalah sama-sama karunia dan berkah.

Hujan dengan durasi panjang meringankan beban pemerintah terutama dalam hal dropping air. Hujan dengan spasi pendek membantu petani dalam mengolah lahan garapan.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Polres Gunungkidul akan Usut Tuntas Kasus Dugaan Penganiayaan Brutal Terhadap Seorang Remaja di Wonosari

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kasus dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang tergolong brutal bahkan sadis terhadap…

4 hari ago

Remaja di Gunungkidul Dikeroyok, Disiram Miras, Luka Dilumuri Garam

WONOSARI – RABU KLIWON, Seorang remaja di Gunungkidul, menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan brutal oleh…

4 hari ago

Kliwon Ditemukan Selamat di Hutan Sanglor

GUNUNGKIDUL - SABTU LEGI , SEORANG Lansia berhasil ditemukan tim SAR Gabungan dengan selamat setelah…

1 minggu ago

Seorang Pria ODGJ Ditemukan Gantung Diri

GUNUNGKIDUL — RABU PON, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) warga Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, Kabupaten…

2 minggu ago

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

3 minggu ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

4 minggu ago