“Dimungkinkan tempat itu, dulu digunakan sebagai tempat bersesuci, juga sebagai air penghidupan,” ungkap Yuliyanto, Minggu, (5/5).
Sumber tersebut juga digunakan oleh masyarakat setempat untuk kebutuhan sehari-hari, sebelum digantikan air PAM.
Tempat tersebut, Yuli bertutur, digunakan untuk wisata air, dan juga wisata budaya, serta wisata religi. Wisata budaya yang dimaksud seperti, acara ritual padusan yang dilakukan setiap setahun sekali.
Dalam ritual padusan secara simbolis air akan diambil dan digunakan untuk bersesuci oleh para pemangku adat.
Setelah itu, masyarakat umum diperbolehkan untuk melakukan padusan atau mandi jamas di Sungai Trukan. Selanjutnya setelah lebaran tiba masyarakat akan mengadakan ritual merti kali.
“Para perantau yang mudik akan kita ajak untuk merti kali ini,” ungkapnya. (jkn)
Page: 1 2
YOGYAKARTA - KAMIS WAGE, SEBANYAK 3.865 mahasiswa Universitas Gadjah Mada program sarjana dan sarjana terapan…
YOGYAKARTA - SELASA PAHING, SEBANYAK 18.850 mahasiswa baru atau Maba Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Tahun…
YOGYAKARTA - JUMAT PON, SEBANYAK 5.880 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 Universitas Pembangunan Nasional Veteran…
YOGYAKARTA - KAMIS PAHING, TIM Admisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bergerak aktif mengenalkan International Undergraduate…
YOGYAKARTA - JUMAT LEGI, PROFESOR Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar…
YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…