BUDAYA

Pesan Petani Desa: Menistakan ‘UPA’ Perilaku ‘Ora Ilok’

 

UPA adalah butiran nasi yang nempel di pojok bibir, atau memang tersisa di piring karena makan tidak tersantap habis. Menyia-nyiakan ‘UPA’ adalah peradaban yang tidak elok.

Nasi, sampai tersaji dalam piring di atas meja melalui perjalanan panjang dan tidak sederhana.

Petani tua berpesan ke anaknya, bahwa setiap makan, nasi tidak boleh tersisa, meski itu hanya sebutir.

Winaryo, matan Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang GunungkIdul ingat betul pesan itu. Dia menyadari bahwa proses gabah menjadi nasi tidak sesederhana yang dibayangkan orang.

“Ada pesan moral dari orang tua, bahwa berterima kasih kepada yang menciptakan alam itu harus appreciate terhadap seluruh ciptaanNya,” ucap Winaryo, 6-7-2023.

Upa tidak boleh disia-siakan. Lebih-lebih dibuang, seperti terjadi di berbagai upacara yang melibatkan banyak orang dalam event kenduri misalnya.

Almarhum Santosa Amanjaya yang pernah mengabdi pada Dinas Pendapatan Daerah Gunungkidul menyatakan, UPA yang tercecer di atas meja makan pun patut diselamatkan.

“Diambil, dan dimakan saja nggak papa. Itu manifestasi hormat dan syukur kepada Sang Pencipta nasi,” ungkapnya.

Pesan tersebut manusiawi religius. Sebab meskipun sebutir UPA, manusia tidak becus membuatnya. Insan sebatas menanam padi, tidak sanggup menumbuhkan. Apalagi menjadikan butiran beras yang siap saji.

Tetapi ada kecenderungan bahwa manusia kadang menghina rezeki yang diterima, dan tidak menyadarinya.

Dalam berbagai upacara banyak disajikan Gunungan berupa tumpeng dan uba-rampenya. Ada yang bahan dasarnya sayuran dan buah-buahan.

Sebagian elit, baik tingkat Desa Kapanewon maupun Kabupaten justru mempelopori adanya penghinaan terhadap sayuran dan buah-buahan yang dirangkai dalam bentuk Gunungan.

Terlalu sering warga dibiarkan rebutan Gunungan yang dipajang di tengah lapangan.

Slamet SPD MM, politisi partai Gerindra menyebut itu peradaban tidak senonoh, karena banyak bahan sayuran dan buah yang terinjak-injak.

Menurutnya perilaku rebutan sayur dan makanan adalah kontraproduktif.

Di satu sisi rangkaian upacara Pajang Gunungan itu ekspresi terimakasih kepada yang Maha Agung, Dzat yang tidak terjangkau pikiran, tetapi sisi lain menistakan ciptaanNya.

Banyak orang tidak menyadari bahwa pernyataan ‘Ana Dina Ana UPA’ merupakan cerita rakyat yang memuat ajaran moral.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Indikasi Praktik Manipulasi TPR Baron, DPRD Minta Audit Menyeluruh

GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…

6 hari ago

Lupa Matikan Kompor, dua Rumah Ludes Terbakar Berikut Perhiasan dan Uang Tunai

TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…

6 hari ago

Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…

6 hari ago

Kronologi Lengkap Penemuan Mayat Kering di Dalam Mobil Terparkir

YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…

7 hari ago

Diduga Mencuri Sepeda Gunung, Oknum Anggota SatPol PP Diamankan Polisi

WONOSARI - SABTU PON, Sebuah  tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…

1 minggu ago

DPPPAPPKB dan Polres Gunungkidul Bersinergi Kawal Kasus Asusila Anak di Bawah Umur

GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…

2 minggu ago