Foto: m.medcom.id
Di langit-langit sejarah bangsa, kemerdekaan dicatat dengan darah, dipahat dengan air mata, dan dikumandangkan dalam pekik takbir serta doa panjang para pejuang. Tapi hari ini, dalam diam, ada suara lirih dari hati yang bertanya: Benarkah kita telah Merdeka? Benarkah kemerdekaan sudah berpijak di dada, atau hanya berderap di bendera? Apakah ruh kita telah bebas dari penjajahan paling kejam, yaitu perbudakan terhadap dunia dan nafsu?
Zaman ini telah berubah. Penjajah tak lagi datang membawa senjata, tapi menyusup dalam rupa ambisi dan cinta dunia. Mereka mengikat manusia bukan dengan rantai, tapi dengan hasrat yang tak pernah selesai. Mereka membuat orang terkurung di balik layar ponsel, terpenjara dalam angka-angka, terjerembab dalam pujian dan gelar-gelar palsu.
Dan dalam keheningan itulah, Al-Qur’an menegur dengan tajam: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Begitulah, manusia yang katanya merdeka, ternyata masih menjadi budak dari apa yang dikaguminya. Budak dari apa yang dikejarnya. Budak dari apa yang ditakutinya.
Padahal Allah telah berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Itulah panggilan kemerdekaan sejati: menjadi hamba hanya bagi-Nya.
Di dunia yang mengagungkan materi, orang yang jujur dianggap langka,
dan yang sederhana tampak aneh.
Banyak yang rela menjual kehormatan demi kekuasaan. Yang bersih dihujat, yang culas dipuja.
Padahal, siapa yang paling kaya di antara manusia?
Dia yang merasa cukup. Dia yang mampu berkata “tidak” saat dunia menyodorkan madu yang beracun. Dia yang ketika diberi, bersyukur; dan ketika diambil, berserah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (merasa cukup).” (HR. Muslim)
Inilah manusia merdeka. Bukan karena mobilnya banyak. Bukan karena rumahnya megah. Tapi karena hatinya tidak diatur oleh apa yang dimilikinya. Ia hidup dengan ringan, memberi dengan ikhlas, dan tersenyum meski kehilangan.
Di penghujung hidup, tak ada gelar yang akan menyelamatkan. Tak ada harta yang mampu menyuap malaikat. Yang tersisa hanyalah jiwa, dan pertanyaan sederhana: apakah ia bebas, ataukah masih terikat?
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, dalam keadaan ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28).
Ayat ini bukan sekadar panggilan kematian. Ini adalah panggilan kemerdekaan spiritual. Bahwa jiwa yang paling layak pulang kepada Tuhan adalah jiwa yang telah merdeka dari selain-Nya.
Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajah luar. Tapi juga bebas dari penjara batin: dari tamak, dari dendam, dari rasa kurang yang tak berujung.
Di antara gegap gempita perayaan kemerdekaan, mari kita rayakan satu bentuk kemenangan lain: Kemenangan jiwa atas nafsu. Kemenangan hati atas dunia. Kemenangan hamba atas semua selain Tuhannya. Sebab hanya mereka yang merdeka dari dunia yang akan mampu pulang kepada-Nya dengan tenang.
YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…
GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…
GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON. Upacara adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala dilaksankan pada hari ini,…
GUNUNGKIDUL - MINGGU PON, Beberapa agenda kegiatan peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 terlaksana dengan…