Foto : kumparan.com
GUNUNGKIDUL-SELASA PAHING | Masyarakat perbatasan Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul dan Kalurahan Dlingo, Kalurahan Dlingo Kabupaten Bantul resah. Serangan hewan kera ekor panjang semakin menggila membuat ludes tanaman di lahan pertanian warga.
Salah seorang warga Pakis 2 Kalurahan Dlingo, Sujoko mengungkapkan, serangan kera ekor panjang sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Ratusan hektare lahan pertanian rusak akibat keganasan hewan tersebut.
“Kami sudah putus asa. Serangan terus terjadi,” ungkap Sujoko , Selasa (17/11/2020) ketika dihubungi wartawan.
Joko menambahkan, dulunya serangan kera ekor panjang hanya berlangsung di seberang kali Oya yaitu di wilayah hutan kayu putih milik Perhutani yang masuk ke wilayah Kalurahan Banyusoca Gunungkidul. Dan serangannya hanya sektoral, tidak menyeluruh seperti sekarang ini.
Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, serangan kera ekor panjang semakin menjadi. Hampir semua tanaman pangan yang dibudidayakan oleh para petani habis dimakan kera. Bahkan benih yang baru ditanampun langsung ludes dimakan kawanan kera tersebut.
Upaya meminimalisir keganasan kawanan kera, para petani rela ronda dan menunggui di lahan mereka, namun ketika ditinggal pulang untuk beribadah Sholat Dhuhur, tanaman palawija mereka langsung ludes dirusak kera ekor panjang.
“Lha wong benih jagung dan kacang yang ditanam di tanah juga habis pagi harinya. Tanahnya itu digali untuk ambil biji yang ditanam,” paparnya.
Joko menambahkan kera-kera tersebut datangnya bergerombol dan bergelombang. Jika dulunya jumlahnya hanya puluhan, namun karena perkembangbiakannya cukup cepat maka kini jumlahnya dalam satu gerombolan kawanan kera mencapai ribuan.
Berbagai upaya mereka lakukan untuk mengusir ribuan kera tersebut. Mulai dari menebar jaring perangkap hingga ronda tiap siang malam mereka lakukan, namun tetap saja kera ekor panjang menyerang. Pernah juga warga secara patungan membeli petasan untuk mengusir hewan tersebut, namun hasilnya nihil.
Joko menceritakan, setiap orang diminta iuran Rp 50 ribu untuk membeli petasan. Tidak tanggung-tanggung, setidaknya warga telah menghabiskan petasan 1 pick up, tetapi kera ekor panjang terus menyerang tanaman palawija mereka. Kera-kera tersebut kembali menyerang ladang mereka ketika petasan habis dibunyikan petani.
“Kami sudah lapor ke dinas, tidak ada tindak lanjut sama sekali,” tambahnya.
Kini, karena serangan membabibuta ribuan kera ekor panjang tersebut, para petani memilih meninggalkan ladangnya dan membiarkan lahan terbengkelai. Mereka takut rugi besar ketika tetap nekat menanami lahan dengan tanaman palawija diastikan habis dimakan kera ekor panjang.
Selain itu, ribuan kera ekor panjang tersebut tak hanya merusak lahan petani, tetapi sudah membahayakan dengan menyerang manusia.
“Pernah ada kejadian seorang ibu rumah tangga yang pergi ke ladang sendirian justru dikejar kera ekor panjang tersebut. Sang ibu lantas jatuh berguling-guling akibatnya wanita tersebut mengalami luka dan harus dilarikan ke klinik kesehatan setempat. Kawanan kera itu kini bermukim di alas Blabakan yang berada di pinggir sungai Oya, tidak kembali ke atas lagi. Tentu membahayakan manusia,” tutup Sujoko. (Hery)
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…
WONOSARI - SABTU PON, Sebuah tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…
GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…