PERISTIWA

Tahun 2021 Bupati Sunaryanta Dihadapkan Pada Rutinitas Pemenuhan Air Minum

WONOSARI-SENIN WAGE | Gunungkidul, siapa pun Bupatinya, tiap tahun tidak akan bisa menghindar dari permintaan air minum, termasuk Bupati anyar Sunaryanta.

Kapanewon Girisuba, seperti dikabarkan di Harian Jogja, awal Mei 2021 telah mulai ada permintaan air minum menggunakan tanki.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Gunungkidul, Eddy Praptono pada penghujung April 2021 menyatakan, bahwa pemenuhan keperluan air minum baru terpenuhi 75%.

“Yang 50% dipasok oleh PDAM Tirta Handayani, sementara yang 25% dicukupi Spamdus dan Spamdes,” ujar Eddy Praptono kepada sejumlah awak media.

Dia yakin, bahwa 25% kekurangannya akan segera teratasi, meski tidak disebutkan secara rinci baik teknis maupun kapan waktu penyelesaiannya.

Enam bulan ke depan mulai Juni hingga November, BPBD Gunungkidul akan kewalahan memenuhi permintaan air minum.

Bupati Sunaryanta akan kembali menyaksikan ribuan tanki berdagang air minum sebagaimana saat dia kampanye tahun 2020 silam.

Di Kapanewon Tepus tahun 2007 sebenarnya ada hasil penelitian yang menyarankan, bahwa Pemkab Gunungkidul perlu memperbanyak bangunan Penampungan Air Hujan (PAH).

Marfidha Dian Ayu Iswandari, dan Pramono Hadi menyatakan, keterbatasan sumber air membuat penduduk di Desa Tepus, Kapanewon Tepus, Gunungkidul memanfaatkan potensi air hujan untuk memenuhi kebutuhan air domestik.

Hal di atas mereka kemukakan dalam Studi Estimasi Kapasitas Penampungan Air Hujan 14 tahun silam.

Penelitian mereka menunjukkan estimasi kapasitas bak Penampungan Air Hujan (PAH) yang ideal dan efektif.

Penelitian tersebut menggunakan data primer hasil wawancara meliputi kebutuhan air, jumlah anggota keluarga dan luas atap rumah dengan metode purposive sampling.

Sedangkan data sekunder mereka ambil data dari curah hujan bulanan Stasiun Tepus tahun 1986-2007.

Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik hujan di Desa Tepus memiliki potensi yang besar yaitu 2.549 mm/tahun, namun hanya terkonsentrasi pada bulan November-Maret.

“Keperluan air domestik penduduk mencapai 67,5 liter/orang/hari,” tulis mereka dalam penelitiannya.

Kapasitas bak penampung air hujan yang harus dibuat adalah sebesar 108,52 m³/orang/tahun untuk periode ulang 23 tahun dengan jumlah anggota keluarga 4 orang.

Hasil penelitian dan saran yang dikemukakan Marfidha Dian Ayu Iswandari, dan Pramono Hadi tidak direspon dengan baik oleh pemerintah kabupaten Gunungkidul. (Bambang Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Mencuri Motor, Warga Gunungkidul Ditangkap Polisi

BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…

6 jam ago

Lemot Buka Rekam Medis, RSUD Wonosari Disomasi

GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…

17 jam ago

Keluarga Besar Partai Golkar Berduka, Tokoh Politik Senior Berpulang

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…

2 hari ago

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

4 hari ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

5 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

5 hari ago