PERISTIWA

Angka KTD Naik Saat Pandemi, Dominasi Kehamilan Remaja

WONOSARI-JUMAT PAHING |  Selama setahun pertama pandemi COVID-19 di 2020, angka Kehamilan Tak Diinginkan (KTD) mengalami kenaikan tipis. Data itu terungkap dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Dinkes Gunungkidul, Kartini menyampaikan bahwa, pada tahun 2020 lalu ada 198 kasus KTD yang dilaporkan.

“Naik sedikit dari 2019 yang tercatat sebanyak 163 kasus,” katanya dihubungi pada Rabu (03/02/2021).

Kartini mengatakan, kasus KTD didominasi oleh kehamilan usia remaja. Ia memperkirakan sisanya dari Wanita Usia Subur (WUS) tanpa suami atau Pasangan Usia Subur (PUS) usia tua. Sebaliknya, secara umum ia menyebut angka kehamilan selama pandemi justru mengalami penurunan pada 2020, jika dibandingkan dengan 2019. Kenaikan hanya terjadi pada PUS.

Menurut data yang diberikan, di 2020 terdapat 8.688 Ibu Hamil (Bumil), 7.636 Ibu Bersalin (Bulin), dan 116.306 PUS. Sementara di 2019 lalu tercatat ada 8.916 Bumil, 7.724 Bulin, dan 114.809 PUS.

“Cakupan akseptor Keluarga Berencana (KB) aktif selama 2020 masih bagus di 74,72 persen. Lebih tinggi dari target nasional yang 70 persen,” ungkap Kartini.

Terpisah, Kabid Pengendalian Penduduk DP3AKBPMD Gunungkidul, Dwi Iswantini juga menyebut, ada sedikit kenaikan terhadap akseptor KB yang putus. Enggan ke fasilitas kesehatan (faskes) disebut jadi alasan.

Ia mengatakan, banyak akseptor KB yang enggan ke faskes karena situasi pandemi. Sebab mereka khawatir jika nantinya terpapar COVID-19 saat kontak dengan petugas.

“Soalnya KB ada jenis implan dan suntik, mereka enggan untuk itu sehingga akhirnya putus layanan,” jelas Iswanti.

Penurunan itu juga berimbas pada akseptor KB baru. Namun ia mengaku tak bisa menyebut angka pasti mengingat ada akseptor yang tak terdata, lantaran membeli kontrasepsi secara mandiri di apotek. Meski ada penurunan, Iswantini mengatakan jumlah akseptor KB Gunungkidul tetap stabil. Bahkan untuk akseptor baru mencapai 40 persen di 2020, di atas rata-rata provinsi.

“Melihat data tersebut, kami optimistis potensi baby boom di 2021 bisa dihindari,” katanya. (Heri)

infogunungkidul

Recent Posts

Hari Jadi Karangasem, Puluhan UMKM Gelar Bazar

GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…

1 hari ago

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…

3 hari ago

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

6 hari ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

2 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

2 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

3 minggu ago