GEDANGSARI–RABU WAGE | Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Ngalang Bersatu kembali mendatangi Kantor Kelurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (11/02). Mereka menggelar aksi unjuk rasa untuk menuntut transparansi pemerintah kalurahan terkait pengelolaan tanah Originair Ongko (OO).
Sekitar 50 peserta aksi tampak datang membawa empat poin tuntutan utama. Salah satu poin paling krusial, warga pertanyaan mengenai status tanah OO. Apakah tanah tersebut secara hukum dapat diproses menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) oleh individu atau tidak.
Situasi pendemo di halaman Balai Kelurahan Ngalang sempat memanas ketika Lurah Ngalang, Suharyanto, memberikan tanggapan awal. Ia menyatakan siap menanggung segala konsekuensi hukum jika memang ditemukan permasalahan dalam kebijakan yang diambilnya.
Jawaban tersebut, oleh massa dianggap tidak substansi. Kekecewaan massa pun memuncak saat Lurah Suharyanto memilih masuk ke dalam ruang kantor dan membiarkan warga tanpa jawaban lebih lanjut.
Emosi pendemo sempat tersulut hingga nyaris terjadi gesekan fisik. Beruntung, aparat keamanan dari unsur Polri dan TNI yang berjaga di lokasi dengan sigap melerai dan menenangkan massa.
Sebagai bentuk protes atas sikap diamnya Lurah, warga menyalakan musik dari truk sound horeg yang dibawa dan memarkir kendaraan tersebut tepat di depan ruang kantor Lurah. Mereka mendesak agar pimpinan desa tersebut keluar memberikan penjelasan yang lebih gamblang.
Sasaat setelah didesak massa, Lurah Suharyanto akhirnya kembali keluar menemui warga dengan didampingi Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, S.E. Dalam kesempatan tersebut, Panewu mencoba memberikan jalan tengah guna mendinginkan suasana.
“Kami akan berada di tengah-tengah masyarakat. Pihak kapanewon akan selalu terbuka dan berkomitmen mengawal jalannya proses hukum kedepannya agar semua menjadi jelas,” ujar Eko Krisdiyanto di hadapan massa.
Ia juga mengimbau agar penyampaian aspirasi ini tetap mengedepankan perdamaian tanpa tindakan anarkis. Setelah mendengar pernyataan dari pihak kapanewon dan lurah, massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib dan damai. Meski demikian, warga menegaskan akan terus memantau perkembangan kasus tanah tersebut hingga mendapatkan kepastian hukum.
Penulis: Jank_Kunk
Editor: HRD
Ikuti infogunungkidul di Facebook, Instagram, dan WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029
YOGYAKARTA (RABU KLIWON)-Polda Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menandatangani Perjanjian Kerja Sama…
YOGYAKARTA (JUMAT KLIWON) RBS (24), pengendara sepeda motor warga Kabupaten Gunungkidul, provinsi DIY, tewas dalam…
MENYIKAPI ramainya perbincangan di media sosial terkait menu Ramadan yang dinilai menyimpang dari ketentuan anggaran,…
GUNUNGKIDUL (MINGGU KLIWON) -Program Makan Bergizi Gratis (MBG), merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo…
GUNUNGKIDUL (SABTU WAGE) -Truck Colt Diesel AA 1946 DK, mengalami laka tunggal di Jalan Jogja…
SEMANU - RABU LEGI | WR, Dukuh Sempon Wetan, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, dilaporkan tenggelam…