WONOSARI-SENIN KLIWON | HIDUP di tengah penyakit menular, harus seirama dengan tatanan alam. Dengan cara begitu, manusia akan lolos seleksi, dalam arti mampu bertahan hidup.
Drh. Retno Widyastuti Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul bercerita, bahwa pernah merasakan dekat dengan penyakit menular sebanyak dua kali.
“Pertama saat flu burung mewabah tahun 2004, dan kedua ketika geger anthrak di Gunungkidul pertengahan tahun 2019 silam” ujar drh. Retno 4 Mei 2020.
Dalam menangani anthrak, drh. Retno harus pegang langsung. Meski mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), menurutnya perasaan takut tetap saja nenghantui.
Dan yang paling dia khawatirkan adalah kemungkinan membawa bibit penyakit itu ke rumah.
Setiap tiba di rumah, kata drh. Retno, cepat cuci motor, sepatu booth, mandi, baru kumpul bersama kekuarga,
Ketika suami dulu masih di tanah rantau, dan harus bertugas malam hari dia punya keyakinan, niat nenolong sesama pasti terlindungi.
Bismillah, demikian drh. Retno berucap sembari melangkah menyelesaikan tugas.
Terkait Covid-19 drh. Retno tidak terlibat, tetapi dia mengaku bisa merasakan betapa berat tugas tersebut.
Menurutnya begitulah manusia, dia menjalankan tugas sekaligus menjalani takdir. Hidup dan mati sudah diatur, kata dia. Bambang Wahyu Widayadi
GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…
PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…
GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…
SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…
YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…