BERBAGAI jenis permainan tradisional yang sering dilakukan anak-anak di berbagai belahan dunia kini hampir bahkan telah punah. Demikian juga di Kabupaten Gunungkidul, meski keberadaanya mengajarkan banyak hal mulai dari ketangkasan, kekompakaan, hingga kecerdaasan, namun “Dolanan Bocah” tersebut kini terlindas seiring dengan berkembangnya Gadget.
Di era tahun 1980-an, permainan anak-anak atau di Gunungkidul disebut dengan istilah “Dolanan Bocah”, hampir tiap hari dapat kita jumpai. Meski terlihat sepele namun banyak hal diajarkan pada permainan bocah pada era tersebut.
Salah contoh dari sekian banyak permainan atau dolanan bocah tersebut “Benthik” misalnya. Selain melatih fisik dan ketangkasan Benthik merupakan salah satu permainan unik.
Bermain Benthik membutuhkan kefokusan, untuk memenangkan permainan ini bahkan dibutuhkan strategi sekaligus kerjasama tim.
Benthik merupakan permainan tradisional yang menggunakan bambu sebagai alat pemukul dan stik pendek terbuat dari kayu atau bambu.
Cara bermain benthik sangat sederhana. Pemain akan memukul stik pendek (janak:red) kemudian lawan harus bisa untuk menangkap stik pendek tersebut.
Selain Benthik, permainan (dolanan) Gatheng juga merupakan salah satu jenis permainan tradisional yang dapat melatih kecepatan tangan, berhitung sekaligus melatih kemampuan motorik.
Gatheng merupakan permainan peninggalan Jaman Kerajaan Islam, menggunakan batu kecil (kerikil). Selain individu, Gatheng juga dapat dimainkan secara kelompok.
Untuk memulai permainan, harus dilakukan pingsut atau hompimpa terlebih dahulu sebagai penentu siapa yang berhak main terlebih dulu.
Selain itu cara bermainnya pun terlihat mudah, pemain akan melempar batu keatas kemudian menangkapnya lagi. Namun saat batu dilempar pemain harus mengambil batu yang lain sebelum kemudian menangkap batu yang dilempar tersebut.
Dalam permainan Gatheng anak-anak diajarkan ketangkasan, kecepatan, berhitung dan kejujuran.
Selanjutnya permainan Sepak Tekong atau Sepak Sekong. Meski alat yang digunakan berbeda beda, namun inti permainan ini tetap sama. Seorang penjaga tekong dan pemain lain bersembunyi. Sedangkan penjaga harus bisa menemukan persembunyian pemain lain dengan tetap menjaga tekongnya agar tidak dirusak oleh pemain lainya (lawan).
Dibeberapa daerah Sepak Tekong menggunakan bola sebagai tekongnya namun ada juga yang menggunakan pecahan genteng yang ditata secara menumpuk menyerupai Piramida.
Pada permainan Sepak Tekong, anak-anak dilatih secara fisik untuk adu cepat. Selain itu, pemain juga diajarkan cara memutuskan kapan harus berlari untuk memenangkan permainan.
Dari ketiga contoh permainan tradisional tersebut dapat kita simpulkan bahwa banyak pelajaran yang terkandung pada tiap jenis permainan tradisional anak-anak.
Namun demikian keberadaan permainan tersebut kini hampir punah dengan semakin berkembangnya Gadget. Pertanyaan besar yang terabaikan “Apa yang akan terjadi dengan kondisi penglihatan seseorang yang sejak usia dini berhadapan dengan gadget”?.
Sementara, sejuta kenangan, kebersamaan di masa kecilpun tidak akan dimiliki lagi oleh generasi penerus bangsa ini.
“Sebagai salah satu bangsa yang menjunjung tinggi kebudayaan, mestinya kita memiliki penyeimbang agar dapat mempertahankan warisan budaya, salah satunya yakni permainan tradisional anak-anak”.
Penulis: A Yuliantoro
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, Sebanyak 1.054 lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode IV…
GUNUNGKIDUL - RABU KLIWON, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., mengapresiasi kinerja UPK Satu…
KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Naniek S Deyang mengundurkan diri dari jabatannya. Naniek mundur dari…