Categories: OPINI

GUNUNGKIDUL TIDAK MEMILIKI KONSEP BUDAYA PANGGUNG

WONOSARI, SENIN PAHING – Pemkab Gunungkidul baru saja menyelesaikan tugas membina seni panggung, khusus 15 desa penyandang predikat desa budaya, (28/10) kemarin. Menonton pelakasanaan gelar potensi desa budaya yang diberi tajuk “sempulur”, saya ada catatan kecil yang bisa dijadikan bahan perbaikan untuk tahun 2019.

Kelangsungan hidup budaya panggung tidak bisa lepas dari empat perkara: seniman, dana, penonton, serta pelaku rensensi. Ini modal dasar (konsep penting) yang harus dipenuhi. Pemkab Gunungkidul, dalam hal ini Dinas Kebudayaan tidak memiliki elemen sekomplit itu.

Harus diakui, Disbud Gunungmidul menguasai separuh alias 50 % syarat minimal hidupnya budaya panggung, yaitu seniman serta dana. Aktor/ seniman merata di 144 Desa, menyebar di 1.431 padukuhan. Dana, sejak DIY memperoleh Danais, Gunungkidul relatif berkecukupan uang.

Tidak begitu jelas, tetapi arah pagelaran potensi desa budaya mudah ditebak, Dinas Kebudayaan ingin menggerakan nafas seni panggung tradisional yang hebat, syukur melegenda. Panggung seni tradisional dipatok sebagai perekat (ikon) pariwisata Gunungkidul.

Dari 15 desa budaya yang tampil di Gubuk Gede kemarin siang, garapan dan improfisasi yang lumayan kreatif adalah Desa Budaya Putat, Kecamatan Patuk.

Materi yang diangkat amat sangsat sederhana, berkaitan dengan kebudayaan petani. Memboyong Dewi Sri (Dewa Padi) secara tematik dirumuskan dalam kalimat pendek, “Manjing Pedaringan.”

Koreografi digarap sedemikian halus, ditambah gending garapan yang ditabuh dua generasi berbeda, membuat ponton nyaris tidak berkedip.

Seumpama Manjing Pedaringan itu pentas malam hari, akan terbantu oleh lampu, sehingga efeknya akan lebih menghunjam di mata penonton.

Cukup layak jika Manjing Pedaringan menarik perhatian Juri, meski pentas siang itu hanya disaksikan beberapa gelintir penonton.

Saya mencatat, Dinas Kebudayaan gagal menbujuk penonton, sehingga tontonan menarik itu terlewatkan.

Kelemahan kedua, Dinas Kebudayaan tidak memiliki kebiasaan menggandeng penulis resensi pertunjukan, yang biasa berfikir kritis. OPD ini menganggap cukup, jika kegiatan telah ditulis wartawan.

Penulis resensi adalah kritikus seni yang berbekal pegalaman, dan cara kerjanya pasti berbeda.

Gelar potensi desa budaya (28/10) terkesan asal jalan, tidak menenuhi konsep dan teknis, bawa membangun seni panggung butuh empat elemen secara terpadu. Bambang Wahyu Widayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

1 hari ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

1 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

2 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

2 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

3 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

3 minggu ago