BUDAYA

Ledhek Keraton Demi Nafsu Politik, Ledhek Desa Untuk Keperluan Ekonomi

LEDHEK alias Tayub yang berkembang di DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur kemungkinan besar adalah tiruan tari bedaya dan serimpi.

Berdasarkan data dan sejarah, Ledhek Mataram lahir untuk kepentingan politik, sementara Ledhek yang berkembang di daerah pinggiran adalah guna menutupi kebutuhan ekonomi.

Tidak bakal hilang dari pikiran masyarakat Jawa, bahwa Ki Ageng Mangir bisa ditundukkan oleh Panembahan Senopati karena Putri Pembayun bersedia ngamen (mbarang) Ledhek atas saran Ki Ageng Karanglo.

Fakta di Kabupaten Gunungkidul sekitar 1960-an, rombongan ledhek ngamen dengan cara keliling adalah demi mencukupi kebutuhan ekonomi.

Tetapi Seiring kemajuan zaman, ledhek keliling itu hilang. Sekarang, Ledhek hanya untuk hiburan pada upacara pasca panen.

Diperkirakan tarian ledhek yang dikembangkan warga pinggiran itu adalah tiruan dari bedaya dan serimpi yang ada di pusat kota kerajaan.

Dalam Majalah Putera terbitan 1937, Ki Hajar Dewantara menulis, bedaya dan serimpi merupakan tarian luhur.

Ki Hajar bilang, bedaya dan serimpi merupakan gerak badan yang menggunakan irama indah, sehingga menarik perhatian bagi orang yang memiliki jiwa seni.

Bapak Pendidikan Nasional itu menyatakan, Gusti Nurul dan Raden Mas Jodjana menunjukkan kehebatannya di depan raja Belanda serta Belgia, sehingga segenap yang hadir berdecak kagum.

Walaupun gerak tarian tidak selengkap yang berada di pusat kerajaan, masyarkat pinggiran di pulau Jawa mulai mengembangkan tarian dengan serius.

Pengembangan bedaya dan serimpi di pedesaan, gerakannya tidak komplit, tetapi gunanya kurang lebih sama, untuk mencukupi ekonomi, dan hiburan dalam adat desa, setelah pasca panen.

Upacara pasca panen, di Gunungkidul dikenal dengan sebutan Rasulan, bersih Dusun, atau bersih Desa. Bersamaan dengan upacara Rasulan, warga melalui pemerintah desa nanggap Ledhek adalah satu hal yang lazim.

Agustina Suminar dalam artikelnya menulis, bahwa Ledhek adalah seni tari yang awalnya berpusat di Kabupaten Blora Jawa Tengah.

Pada zaman kolonial, ledhek dimanfaatkan untuk menghibur prajurit Belanda saat mereka melepas lelah. Menjadi tidak aneh jika penampilan penari ledhek agak liar, mesum dan berbau alkohol.

Di Gunungkidul Ledhek dimanfaatkan sebagai suguhan untuk subyek yang tidak kasat mata, yaitu Dhanyang Smara Bumi. Subyek tersebut diyakini menjadi sumber kesuburan sehingga hasil pertanian melimpah.

Penduduk Padukuhan Karang, Desa Ngalang, Kapanewon Gedangsari, bahkan biasa mementaskan Ledhek kreasi warga setempat.

Hal yang sama juga dilakukan warga Desa Nglegi, Kapanewon Patuk. Perbedaannya, warga Nglegi musti mendatangkan rombongan Ledhek dari Badongan, Desa Karangsari, Kapanewon Semin. Mereka nanggap Ledhek Rp 1,5 hingga Rp 2 juta sekali pentas.

Jumlah penari Ledhek yang didatangkan dua orang. Semua perempuan berparas cantik. Mereka, di samping ditanggap oleh Desa, juga memperoleh pendapatan tambahan dari sejumlah pengibing (penari spontan warga setempat).

Biasanya para pengibing itu memberi uang (saweran) dengan cara menyelipkan ke dada penari. Pengibing juga memanfaatkan situasi, dengan memperagakan ciuman imajinatif.

“Susahnya menjadi penari Ledhek itu jika pengibing melakukan atraksi Tiga C: colek, cium dan ciu,” ujar Sri Subekti, Ledhek dari Padukuhan Badongan, Desa Karangsari, Kapanewon Semin Gunungkidul, saat pentas di Desa Nglegi, Kapanewon Patuk beberapa saat lalu.

Tentang kebiasaan ngamen seperti dilakukan rombongan Ledhek tahun 1960-an, Sri Subekti menyatakan, itu dilakukan oleh generasi seusia ibunya.

Menurut Sri Subekti, saat ini rombongan ledhek jarang keliling atau ngamen seperti dilakukan generasi orang tuanya.

Kala itu, terang Sri Subekti, mbarang Ledhek atau ngamen, karena dikejar keperluan ekonomi.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

1 hari ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

2 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

2 hari ago

Kekeringan di Gunungkidul, UPZ UP45 Salurkan Puluhan Ribu Liter Air Bersih di Ngawen

GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…

4 hari ago

Puluhan Gambar Muncul, Berikut Hasil Lengkap Bukaan Cupu Kyai Panjala

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON. Upacara adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala dilaksankan pada hari ini,…

6 hari ago

Hari Jadi ke-196, Bupati – Wakil Bupati Gunungkidul Kian Memanas

GUNUNGKIDUL - MINGGU PON, Beberapa agenda kegiatan peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 terlaksana dengan…

1 minggu ago