Categories: BUDAYA

Mengirim Doa Dikemas Dalam Budaya Nyadran Masih Tetap Dilestarikan oleh Sebagian Besar Masyarkat

KLATEN, Senin Pahing-Memasuki akhir pekan bulan Syakban, mayoritas pendukung kebudayaan Islam-Jawa, memiliki tradisi bersih makam leluhur atau mengirim doa kepada roh leluhur yang sering disebut Nyadran. Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Karangmoncol, Sangrahan Prambanan, Klaten di setiap tahun di tanggal 21 bulan Ruwah.

Ki Suto Pothet salah satu tokoh sesepuh dari Dusun Karangmoncol Sngrahan Prambanan memaparkan, tradisi ini sudah ada sejak jaman dahulu secara turun temurun. Diawali di masa pemerintahan Raja Majapahit sudah ada upacara Nyadran untuk memuliakan arwah. Masuknya Islam membuat nyadran yang rutin dilaksanakan pada bulan Ruwah. Kosa kata Ruwah merujuk pada kata Arwah, di mana bulan Syakban dianjurkan untuk memuliakan arwah orangtua masing-masing yang sudah meninggal.

Menurut Ki Suto Karena pengaruh Islam, nyadran ditujukan untuk bersama-sama mendoakan arwah leluhur dengan doa-doa berdasarkan ajaran islam.

Penyelenggaraan nyadran di Dusun Karangmoncol biasa diawali di rumah RT setempat dengan membawa suguhan terdiri dari macam-macam makanan, ada nasi berkat, snack/jajanan pasar, dan buah-buahan yang didoakan kemudian dibagikan. Keranjang atau besekan akan menjadi rebutan bagi para anak-anak kecil, maupun dewasa dan masyarakat lainnya.

Nyadaran, lanjut Ki Suto jaman dulu berbeda dengan sekarang, saat ini makanan yang dibawa sudah lebih bermacam-macam dan berlimpah.

Pada hari pelaksanaan nyadran, masyarakat bangun lebih awal untuk mempersiapkan suguhan. Karena upacara nyadran dimulai sejak pukul 06.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan acara besik atau pembersihan makam/nyekar pada sore harinya.

Begitu matahari muncul, warga langsung ke tempat sadranan diselenggarakan dengan membawa urunan sajian sadranan-nya masing-masing.

Tradisi nyadran ini selain sebagai momentum mendoakan arwah para leluhur, juga untuk sarana ngumpul. Namun yang lebih utama adalah mengenang dan mengenal sejarah diri sendiri. Setiap orang punya sejarah. Punya kenangan. Dan nyadran adalah momentum pas untuk menziarahi.

“Tradisi nyadran sebagai salah satu kearifan lokal yang harus dipertahankan sebagai pemersatu berbagai perbedaan yang ada,” pungkasnya. (wp-ig)

infogunungkidul

Recent Posts

Polda DIY Raih Penghargaan 12 Satker Predikat Pelayanan Prima & Zona Integritas

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…

6 hari ago

Kakek 70 Tahun Gantung Diri di Pohon Jambu Mete

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta,  M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…

6 hari ago

Scoopy Tabrak Ambulan PMI, Satu Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…

6 hari ago

Mobil Brimob Polda DIY Terserempet KA Bandara

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…

6 hari ago

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Peringkat Tertinggi PTKIN di Indonesia

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan…

6 hari ago

Ribuan Lulusan Pascasarjana UGM Jalani Proses Wisuda

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, Sebanyak 1.054 lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode IV…

6 hari ago