MENURUT Marx Horkheimer modal itu buta. Itu artinya bahwa mengundang banyak pemodal identik dengan mendatangkan orang-orang yang bakal membabi buta.
Pemodal akan mengatur Penguasa menurut mereka punya selera. Ketika Penguasa kedodoran, masyarakat dirugikan, atau sekurang-kurangnya tidak terlindungi. Hal ini tidak pernah disadari.
Di Gunungkidul sudah terjadi, bahwa pemilik modal gede secara tidak langsung mendekte pemerintah, dengan cara mengembangkan usaha semau gue di luar regulasi.
Pasang tarif masuk destinasi wisata di luar batas semestinya dengan alasan, saat mempercantik destinasi tidak ada yang gratis, semua pakai uang.
Perhitungan para pemodal, BEP harus secepatnya tercapai. Pemilik uang segera ingin menikmati keuntungan besar.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul hanya menikmati portal masuk yang nilaiya tidak lebih dari 10.000 ribu rupiah.
Ada yang mengistilahkan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebatas berjualan akses, tidak mampu merogoh keuntungan pengusaha yang lihai memainkan destinasi sebagai mesin pencetak uang.
“Mburu uceng kelangan deleg,” meminjam pepatah Jawa.
Pemodal yang bergerak di bidang peternakan ayam pun demikian. Pemerintah Kabupaten tidak sanggup mengendus potensi ayam kampung.
Pada 1989-1984, Ir. Subekti Sunarto Bupati ke-22, pengembangan ayam kampung pernah digerakkan di 144 desa. Sempat data fisik ditempel pada data dinding di Bangsal Sewoko Projo.
Setelahnya, sumber daya lokal itu tidak disentuh oleh Bupati Harsodiningrat, Yoetikno, Suharto, Sumpeno Putro, maupun Badingah.
Bupati penggantinya, tidak ada yang meneruskannya. Baru Sunaryanta Bupati ke-27 berencana mengembangkan peternakan tetapi ayam lehore atau ayam kampung tidak ada kejelasan. Dinas Peternakan pun tidak menyimpan data dalam bentuk populasi.
Pengusaha kuat modal yang kini bercokol di Gunungkidul adalah peternakan ayam WMU. Tidak serta-merta menggilas produksi ayam lokal, karena Marsiyo pengusaha ayam super (sudah persilangan) masih kuat bertahan.
WMU menyedot jumlah konsumen daging ayam kampung itu jelas. Padahal di sisi lain, prospek pasar pitik di jantung kota Wonosari terus membaik, sebagian diserbu pedagang dari Cilacap.
Bergeser ke perikanan, Sunaryanta pernah menggagas budidaya pemeliharaan ikan tuna di perairan Sadeng dengan metode bronjong.
Sementara nelayan lokal yang beroperasi saat ini kalah dengan nelayan luar Gunungkidul yang kebetulan memiliki banyak dolar.
Para pemodal yang masuk ke Gunungkidul dari sisi PAD bisa disebut menguntungkan terutama dalam hal perijinan dan pajak, tetapi dari kacamata pengembangan UMKM pengaruhnya bisa sangat merugikan, bahkan buruk.
UMKM, di bidang apa pun bakal megap-megap bersaing dengan pemodal gede. Di balik kemungkinan seperti itu Pemerintah tidak menyiapkan piranti untuk memproteksi ribuan UMKM yang mulai tumbuh.
Pemodal besar nafsunya juga besar, yang penting uangnya semakin berlipat ganda. Dalam hal ini modal berbalik mengendalikan manusia, bukan manusia mengendalikan modal.
Itulah kritik Mark Horkheimer yang ditulis dalam buku Dilema Manusia Rasional oleh Sindhu Nata, bahwa modal itu membutakan mata manusia.
(Bambang Wahyu)
SLEMAN - KAMIS LEGI, SEORANG pria tewas akibat tertemper kereta api di jalur KA KM…
YOGYAKARTA – SELASA WAGE, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta melarang seluruh personelnya menggunakan rokok Elektrik atau…
BANTUL - SENIN PON, KECELAKAAN tunggal yang melibatkan sebuah truk Hino bernomor polisi H-8168-OH terjadi…
SLEMAN - SABTU LEGI, KAPOLRESTA Sleman, Polda DIY AKBP Dhimas Prasetyo membantah adanya informasi yang…
YOGYAKARTA - SABTU LEGI, UNIVERSITAS Gadjah Mada (UGM) menggelar wisuda Program Pascasarjana Periode I Tahun…
YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, Kepolisian Daerah (Polda) DI. Yogyakarta menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, tidak…