DIHITUNG mundur dari 16 Januari 2022, lima belas hari lagi yakni tanggal 31 Januari 2022, manusia sejagat menghadapi tahun baru Masehi. Apa besok ada sesuatu yang baru di antara mereka?
Untuk menjadi manusia baru, sebenarnya tidak perlu menunggu pergantian tahun. Setiap hari, tanpa kecuali setiap manusia diberi kesempatan mengubah dirinya menjadi makluk baru, terutama baru dalam paradigma berfikir.
Konteks kesadaran begitu, pemahamannya bahwa setiap hari, di mana pun posisi seseorang pasti sering melakukan kesalahan.
Karena acap berbuat kekeliruan, maka manusia diajari mengucap kalimat pendek tetapi bernas (menthes) “Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami minta petunjuk”.
Petunjuk yang seperti apa?, “Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
“Apa ucapan tersebut sampai ke singgasana? Sampai tak sampai, bukan urusan manusia, yang jelas Tuhan itu Maha Mendengar, “ucap seorang Kyai pada acara pengajian Akbar.
Menyadari kekeliruan, hari berikutnya, manusia diberi kesempatan tidak melakukan kesalahan yang sama.
Tamsilnya, bahwa seekor keledai tidak akan melewati jalur yang sama, ketika dia di jalur itu kakinya pernah tersandung batu.
Kalau hari kemarin seorang pejabat mengambil duit rakyat, secepat kilat dia berhenti, sehingga dia selamat tidak diOTT KPK dan tidak perlu mengenakan rompi dengan tangan diborgol.
Pejabat seperti itu merupakan contoh manusia baru, sebab untuk meraih ketentraman semula bersandar kepada materi, hari berikutnya berubah berpegang teguh kepada Dzat yang Maha Mulia.
MH Ainun Nadjib menyebutnya, bahwa pejabat seperti itu merupakan manusia yang di dalam hatinya tersemat keris (pusaka) di tangannya tergenggam pedang (kekuasaan) serta cangkul (kelayakan ekonomi).
Menurut Cak Nun, secara simbolik, setiap manusia Indonesia, pada hakekatnya perlu memiliki keris, pedang serta cangkul, sehingga kehadiran di tengah pergaulan menurut Kyai Supandi, setiap manusia itu bermanfaat bagi alam semesta.
“Hidupnya menggenapi (bermanfaat) matinya mengganjili (banyak pihak kehilangan),” ucap Kyai Supandi di berbagai kesempatan ceramahnya.
Manusia yang selalu memperbaharui diri sepanjang hidupnya, dalam dunia pewayangan dianggap sebagai dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan.
Ini bahan renungan menuju tahun 2023. Tidak usah berharap bahwa langit bakal terang benderang dengan mercon dan kembang api.
Indonesia, juga Gunungkidul setiap hari menunggu lahirnya manusia baru terutama dalam pola pikir. Sama sekali tidak butuh petasan.
Jika alun-alun Wonosari masih mengumbar petasan dan kembang api pada Sabtu Legi tanggal 31 Januari dini hari, itu artinya bahwa para pemimpin pikirannya tidak terbaharui.
(Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…