OPINI

MUDIK LEBARAN DILAKUKAN DENGAN TUNDUK DAN MERENDAH

SOAL mudik lebaran di tengah pandemi kata kunci atau resepnya hanya dua: tunduk dan merendahkan diri. Dengan cara itu, manusia tidak akan terombang-ambing.

Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan (Covid-19) kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya, dan (juga) tidak merendahkan diri.

Dan sekiranya mereka Kami kasihani, dan Kami lenyapkan malapetaka (Covid-19) yang menimpa mereka, pasti mereka akan terus-menerus terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Kebijakan 16-17 Mei 2021 berupa larangan mudik merupakan gambaran kongkret betapa Pemerintah gagal terkait kebijakan mengantisipasi Covid-19.

Pemerintah bingung, terombang-ambing, sehingga pernyataan Menteri PMK Muhadjir Effendy dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin tidak seirama.

Sangat jelas bahwa Pemerintah meragukan Lokdown, PSBB, PPKM sekala mikro plus rangkaian protokoler kesehatan, bahkan faksinasi Covid-19.

Sensasinya, Pemerintah sampai mengatur umat dalam menjalankan ibadah sholat tarawih dan sholat Idul Fitri.

Sholat tarawih, ujar Menteri Muhadjir Effendy, boleh dilakukan di luar rumah dengan catatan tidak boleh berkerumun.

Sementara itu Muhadjir tidak mematok definisi yang tepat mengenai pengertian berkerumun.

Sholat tarawih tidak boleh berkerumun, tetapi para pejabat mulai dari pusat hingga daerah tidak pernah dilarang melakukan jejer-jejer melakukan foto bersama.

Menteri PMK Muhadjir Effendy menyatakan telah berkoordinasi dengan Menteri lain, sementara Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyerukan, umat Islam sholat tarawih di rumah saja.

Sholat tarawih di masjid hukumnya sunah, mencegah penularan penyakit hukumnya wajib, ujar Wakil Presiden menjelaskan ihwal seruannya itu.

Dalam hal satu kebijakan Pemerintah terlihat tidak dalam satu pandangan, mereka tarik menarik. Mengapa ini terjadi?

Ada ketakutan yang luar biasa terhadap pandemi, karena setahun lebih berbagai upaya dilakukan, tetapi hasilnya tidak memuaskan.

Klimaknya, Pemerintah bingung dan terombang-ambing dalam ketidaktahuan bagaimana mengatasi Covid-19. Sampai kapan? Sampai pemimpin bangsa ini menyadari kemahakuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sampai para pemimpin itu tunduk dan merendahkan diri. (Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Kekeringan Akibat Kemarau Panjang di Gunungkidul Menjadi Perhatian Banyak Pihak

RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…

3 jam ago

KKN IPB Kenalkan Program Tani Hayati di Gunungkidul

WONOSARI - RABU PAHING, Sebanyak 8 (delapan) mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor…

1 hari ago

Polda DIY Raih Penghargaan 12 Satker Predikat Pelayanan Prima & Zona Integritas

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…

1 minggu ago

Kakek 70 Tahun Gantung Diri di Pohon Jambu Mete

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta,  M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…

1 minggu ago

Scoopy Tabrak Ambulan PMI, Satu Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…

1 minggu ago

Mobil Brimob Polda DIY Terserempet KA Bandara

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…

1 minggu ago