Categories: NASIONAL

Pemicu Kekeringan Parah di Indonesia, Bukan Hanya El Nino

WONOSARI, JUMAT LEGI – Kekeringan parah di Indonesia pernah terjadi, tahun 1982-1983 serta tahun 1997-1998. Pemicunya bukan hanya El Nino, tetapi juga Indian Ocean Dipole (IOD).

El Nino merupakan peristiwa memanasnya permukaan air laut pantai barat Peru-Ekuador, Amerika selatan. Pemanasan tersebut mengakibatkan iklim global terganggu. Dampak bagi Indonesia, terjadi kekeringan cukup panjang.

Angin muson Indonesia yang bertiup dari Asia sebenarnya membawa banyak uap air, tetapi karena terpengaruh El Nino, maka uap air tersebut sebagian berbelok ke arah pantai barat Peru-Ekuador, Amerika Selatan.

Karena uap air yang masuk ke Indonesia terlaku sedikit, akibatnya, Indonesia mengalami kekeringan cukup panjang, meski kekeringan tidak merata di seluruh daerah.

Anggota Tim Variabilitas Iklim, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin, tahun 2015 pernah mengatakan, El Nino menguat hingga Desember .

Tahun 2015, indeks El Nino mencapai angka 1,37. Indeks itu akan terus merangkak antara 1,5 hingga 2,5.

“Ini indeks terkuat selama lima tahun terakhir,” kata Erma.

Secara sederhana, Erma menjelaskan, fenomena El Nino tersebut mengakibatkan kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

“El Nino kuat dengan indeks lebih besar dari angka 2 pernah terjadi pada tahun 1982-1983 serta tahun 1997-1998. Dampaknya terjadi bencana kekeringan parah di Indonesia,” kata dia.

El Nino kuat menurut Lely Qodrita, rekan satu tim dengan Erma, memiliki kecenderungan berulang sekitar 15 tahunan.

Sementara dia berkeyaknan kekeringan parah tidak hanya disebabkan oleh El Nino tapi juga Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang kuat.

IDO menurutnya adalah gejala penyimpangan cuaca karena interaksi antara permukaan laut dengan atmosfer di Samudera Hindia bagian timur dan Samudera Hindia bagian barat.

Suhu permukaan laut Samudera Hindia Bagian Timur lebih dingin dibanding dengan Samudera Hindia Bagian Barat, termasuk memicu kekeringan di Indosesia.

Mitigasi bencana kekeringan, menurut kedua ilmuwan tersebut bisa dilakukan dengan menghemat penggunaan air dalam berbagai keperluan sehari-hari. (Agung)

infogunungkidul

Recent Posts

Belasan Rumah Dinas Brimob Polda DIY Dibangun di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, SEBANYAK 18 unit rumah dinas Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda…

2 hari ago

Viral Kasus Bolosego, Oknum Polisi Dipatsus

YOGYAKARTA - SELASA PAHING, Aipda S  seorang oknum anggota polisi Polsek Kraton menjalani pemeriksaan Propram…

3 hari ago

Hari Jadi Karangasem, Puluhan UMKM Gelar Bazar

GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…

1 minggu ago

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…

1 minggu ago

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

2 minggu ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago