PATUK-MINGGU PON | Seratus empat puluh empat desa di Gunungkidul sedang kerja kilat mengumpulkan data IDM Desa berbasis SDGs. Pengisian form SDGs ada kecenderungan rumit. Potret kerumitan itu terjadi di Desa Putat, Kapanewon Patuk.
Jumlah relawan Pokja yang dikerahkan guna pengumpulan data tidak kurang dari 40 personil.
“Itu disesuaikan dengan jumlah RT sedesa Putat,” ujar Kamituwo Desa Putat Sri Wahyuni, via aplikasi WhatsApp, 1-5-2021.
Sebelum terjun ke lapangan, ungkap Sri Wahyuni para relawan memperoleh bimbingan teknis ( bimtek) ihwal pengisian form manual sekaligus input data ke aplikasi yang disediakan okeh Kementerian Desa PDT.
Kerja pengumpulan data IDM SDGs tidak segampang yang dibayangkan. Personil yang bekerja di Padukuhan Gumawang, demikian Sri Wahyuni menunjuk contoh, kurang mahir dalam menginput ke dalam aplikasi, sehingga dia harus dibantu anak, sementara si anak tidak pernah memperoleh pelatihan.
Itu kerumitan pertama. Kerumitan yang kedua terjadi di Putat Wetan. Personil yang bertugas di RT 28 tidak berkunjung ke rumah warga. Formulir yang seharusnya dia isi dan kerjakan disebar kepada Kepala Keluarga (KK) sasaran untuk diisi oleh masing-masing KK.
Patut diduga dalam hal mengisi formulir terjadi kekeliruan alias eror karena KK satu dengan yang lain tidak akan sama dalam hal pemahaman materi pertanyaan.
Terkait kerumitan yang kedua Sri Wahyuni selaku anggota Pokja berjanji mengingatkan personil yang bertugas di RT 28.
Form yang sudah terlanjur diisi oleh KK, pinta Sri Wahyuni, harus dilakukan wawancara ulang. (Bambang Widayadi)







