PERISTIWA

Penyajian Angka Kematian di Gunungkidul Tidak Objektif

WONOSARI-JUMAT PAHING | Pemerintah Pusat maupun daerah melalui divisi gugus tugas sibuk mencatat kematian penduduk dari sisi yang terkena Covid-19. Warga yang meninggal karena usia lanjut atau penyakit lain tidak ada catatan maupun laporan. Timbul kesan, laporan kematian tidak obyektif

Gugus tugas di tingkat paling ujung (Desa, Dusun, RW dan RT) pun tidak melakukan pencatatan dan pelaporan kematian secara cepat dan periodik.

Dikutip dari Laporan Satuan Gugus Tugas DIY, catatan kematian tingkat daerah karena Covid-19, hingga 24 Juni 2021 sebanyak 1.422 orang sementara warga yang meninggal kategori wajar tidak terlaporkan. Padahal ketika dihitung tiap bulan angka kematian di DIY rata-rata diketahui 237 orang.

Untuk Kabupaten Gunungkidul Dinas Kesehatan berupaya menelusuri penyebab utama tingginya angka kematian karena Covid-19.

Menjelang akhir Juni 2021, setidaknya tercatat 205 warga Gunungkidul meninggal karena Covid-19.

Data tersebut dikutip dari Tribunjogja.com Rabu 23-6-2021 yang terpampang pada https://ppid.gunungkidulkab.go.id/berita/160843/detail.

“Diambil rata-rata, tiap bulan di Gunungkidul terdapat 34 orang meninggal,” ujar Mudi Lestari mengamati laporan Dinkes Gunungkidul.

Fakta di lapangan menunjukkan, warga Gunungkidul yang meninggal karena usia, atau karena sakit selain terkontaminasi Covid-19 tidak pernah dicatat kemudian disandingkan dengan angka kematian yang 205 tersebut.

Oleh sebab itu, menurut Mudi Lestari, laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menjadi hiperbolistik (berlebihan) dan menakutkan, sementara rata- rata kematian per hari tidak melampaui angka 2 orang.

“Menurut saya, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil perlu diminta membuka laporan, berapa kematian warga di luar Covid-19. Ini penting untuk menjaga psikhologi massa,” usulnya.

Warga Gunungkidul, menurutnya tidak boleh digelisahkan (diteror) dengan penyajian laporan angka kematian yang tidak proporsional dan tidak berimbang.

“Pembaharuan data angka kematian warga menurutnya adalah penting. Tetapi harus ditunjukkan berapa yang mati karena Covid-19, berapa yang mati karena faktor usia, karena penyakit lain, karena kecelakaan, atau bahkan berapa yang mati karena bunuh diri,” pungkasnya. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

6 jam ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

4 hari ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

1 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

1 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

2 minggu ago

Adu Banteng CBR Vs Supra, Satu Korban Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…

3 minggu ago