SETELAH sebulan suntuk umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang diperoleh bukan kemenangan tetapi kekalahan telak ketika tidak ada kesadaran tertinggi bahwa puasa adalah peosesi kemesraan dengan Sang Pencipta.
Sayangnya, bahwa kekalahan jarang disadari. Selalu dikira bahwa pada setiap tanggal 1 Syawal manusia yang berpuasa otomatis meraih kemenangan.
Mari ditelusuri bersama dari satu sumber yang haq begini: Berbuat baik itu bukan menghadapkan wajah ke arah timur atau barat.
Salah satu kebajikan yang harus dilakukan manusia adalah menepati janji apabila dia berjanji. Begitu bagian dari ilmu jagat raya yang diajarkan Allah Taala.
Di Indonesia, yang banyak mengobral janji adalah para pemimpin, mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati / Walikota hingga Lurah.
Alasannya, secara normatif regulatif mereka diikat oleh peraturan harus berjanji selama mereka menjadi pemimpin.
Sementara itu menurut para pinisepuh janji adalah hutang yang harus dibayar sebelum ajal tiba. Logikanya, terkait tradisi meminta maaf pada Lebaran Idul Fitri Presidenlah hingga Lurah yang perlu minta maaf kepada rakyat, bukan sebaliknya rakyat harus meminta maaf pada Presiden.
Rakyat tidak pernah berjanji apa pun kepada Presiden. Itu artinya rakyat tidak pernah punya hutang kepada Presiden.
Sebaliknya Presiden, janjinya seabrek-abrek dan hutangnya ditulis dalam dokumen negara yang disebut RPJM Nas. Jadi selama memimpin sebuah negeri, satu periode atau dua periode Presiden banyak hutang kepada rakyat.
Janji terbesar Presiden Indonesia adalah mensejahterakan rakyat. Sudahkah terlaksana? Nah di sini duduk perkaranya mengapa Presiden harus meminta maaf kepada rakyat.
Jika 1 Syawal dianggap sebagai hari kemenangan, menang dalam hal apa?
Indonesia berganti presiden hingga tujuh kali tidak satupun presiden secara tulus dan terbuka meminta maaf kepada rakyat. Tidak masalah, sebab sebelum presiden meminta maaf, rakyat telah terlebih dahulu memaafkannya.
Presiden enggan meminta maaf itu sebuah kesombongan kultural. Rakyat rela memaafkan kesalahan Presiden adalah prototipe kerendahatian sosial. Yang meminta dengan yang memberi maaf secara moral derajadnya tinggi yang memberi.
Sekarang mari ditarik ke pemimpin lingkup rumah tangga. Ada tertulis petunjuk yang cukup jelas.
Ayah selaku kepala keluarga, tidak ada keharusan meminta maaf kepada anak dan istri gara-gara belum berhasil meningkatkan kesejahteraan.
Seorang ayah justru diperintah memberi maaf, walaupun anak dan istri kadang sering menjadi musuh berat dalam berumah tangga.
“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” At-Taghabun, Ayat 14.
Tidak setiap 1 Syawal selepas berpuasa sebulan suntuk lalu otomatis orang meraih kemenangan. Tidak. Banyak di antara mereka yang hanya merasakan haus dan lapar.
Membedakan antar meminta maaf dan memberi maaf saja tidak bisa, apalagi membedakan kemenangan dan kekalahan. (Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…
NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…