WONOSARI-KAMIS KLIWON | Kepala Bidang Sejarah Bahasa dan Sastra Kundha Kabudayan Kabupaten Gunungkidul Rudi Ismanto, A.MK, SE, MM menyatakan, mulai tahun 2022, Sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul akan dilakukan revisi menyeluruh.
Sejarah lahirnya Gunungkidul (1831) yang saat ini terpampang di portal GunungkIdul banyak kelemahan, juga banyak kritik dari pemuka masyarakat.
“Yang paling menonjol dan aneh adalah pernyataan bahwa pelantikan Bupati pertama Tumenggung Pontjodirjo dilakukan oleh Pangeran Samber Nyowo, padahal Pangeran Samber Nyowo wafat jauh sebelum Pontjodirjo menjadi Bupati Gunungkidul,” kata Rudi Ismanto, lewat saluran telepon, 30-12-2021.
Hari ini Kamis 30-12-2021, Kepala Kundha Kabudayan dilantik Bupati H. Sunaryanta.
Dalam hal penelusuran sejarah Gunungkidul Rudi Ismanto menunggu arahan Kadinas yang baru.
Dia mengaku telah menghubungi setidaknya 25 pakar untuk merombak sejarah Gunungkidul yang campur aduk dengan dongeng, mitos yang secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan.
“Pada waktu Gunungkidul masih merupakan hutan belantara, terdapat suatu desa yang dihuni beberapa orang pelarian dari Majapahit. Desa tersebut adalah Ponggangan, yang dipimpin oleh R. Dewa Katong saudara raja Brawijaya. Setelah R Dewa Katong pindah ke desa Katongan 10 km utara Ponggangan, puteranya yang bernama R. Suromejo membangun desa Ponggangan, sehingga semakin lama semakin ramai. Beberapa waktu kemudian, R. Suromejo pindah ke Karangmojo,” demikian narasi yang dipandang mirip dongeng tersebut.
Mantan Mendikbud pada Orde Baru era Soeharto menyatakan, penulisan sejarah harus menggunakan 4 metode meliputi : heuristik, kritik sumber, Interpretasi serta historiografi.
Heuristik merupakan langkah penulis sejarah dalam mengumpulkan sumber terkait dengan tema yang ditulis dalam kajian.
Menurut Nugroho Notosusanto, heurstik memerlukan sumber primer dan sumber sekunder.
Sumber primer, kata Nugroho, merupakan sumber dari orang yang melihat langsung dan mengalami peristiwa sejarah. Sumber sekunder merupakan sumber yang diperoleh dari orang yang tidak melihat langsung.
Metode dua adalah kritik sumber. Ini usaha untuk menguji, menilai, serta memilah / menyeleksi sumber yang telah didapat. Hal ini dilakukan agar diperoleh sumber yang benar-benar asli (autentik).
Metode penulisan sejarah yang ke tiga yaitu interpretasi atau penafsiran.
Ahli sejarah akan menafsirkan fakta yang didapat dari sumber, karena data tidak bisa berbicara sendiri. Data perlu analisis dan sintesis yang artinya harus diurai dan disatukan.
Metode ke-4 yaitu historiografi atau penulisan sejarah. Ini menyangkut soal penyajian data yang telah terkumpul dalam bentuk karya ilmiah. (Bambang Wahyu)
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…
GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…