PERISTIWA

Selain Sektor Pertanian, La Nina juga Berdampak pada Hewan Ternak

WONOSARI-KAMIS WAGE | Fenomena La Nina dimusim penghujan tidak hanya berdampak pada pertanian, tetapi juga peternakan diantaranya muncul ragam penyakit menyerang hewan sapi hingga ayam.
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul turut melakukan berbagai antisipasi.

Kasie Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), DPP Kabupaten Gunungkidul, Retno Widyastuti menyampaikan, hewan ternak bisa terancam penyakit saat musim penghujan.

“Ancaman penyakit ini bisa menyerang berbagai hewan ternak, seperti sapi hingga ayam,” kata Retno lewat keterangannya pada Kamis (19/11/2020).

Pada sapi, potensi penyakit yang muncul berupa Bovine Ephemeral Fever (BEF), diare, miasis (infeksi belatung), hingga gangguan reproduksi dan metabolisme. Sementara penyakit pernapasan kronis berpotensi muncul pada ternak ayam.

Retno mengimbau, para peternak sapi untuk lebih meningkatkan kebersihan kandang, termasuk penggunaan obat anti ektoparasit hingga obat cacing secara rutin.

“BEF dan miasis ini biasanya muncul saat musim penghujan, disebabkan oleh lalat dan nyamuk. Jadi pastikan kandang selalu bersih dan kering,” jelasnya.

Retno meminta, para peternak untuk melapor ke Puskeswan terdekat jika ditemukan gejala demam hingga nafsu makan menurun pada sapi. Termasuk melakukan pemeriksaan secara rutin 3 bulan sekali.

Ia juga mengimbau agar hewan ternak yang baru dibeli dari luar daerah untuk ditempatkan secara terpisah. Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin bahwa hewan tersebut bebas dari penyakit.

“Setidaknya hewan ternak dari luar perlu dikarantina selama dua minggu sebelum dijadikan satu kandang,” kata Retno.

Terpisah, Kabid Tanaman Pangan DPP Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono menyampaikan, seluruh petugas UPT Puskeswan telah mendapatkan imbauan tersebut. Mereka diminta untuk menyebarluaskan informasi ke para peternak.

Raharjo berharap, seluruh petugas tetap siaga untuk menerima laporan dari masyarakat apabila ada hewan ternak yang sakit. Termasuk mempelajari lebih dalam soal gejala-gejala yang mungkin muncul.

“Ini akan mempermudah proses analisa penyakit dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrem,” kata Raharjo.

Pada sektor unggas, peternak diimbau rutin memberikan multivitamin pada ayam daging dan petelur. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kondisi ayam dari ancaman penyakit pernapasan.

Jika tidak dilakukan antisipasi, Raharjo mengkhawatirkan pengaruhnya pada kualitas dan kuantitas daging ayam. Termasuk produksi telur ayam.

“Ini bisa terjadi lantaran tingkat deplesi (penyusutan) yang tinggi pada unggas, akibat dari serangan penyakit tersebut,” tutup Raharjo. (Hery)

 

infogunungkidul

Recent Posts

Hari Jadi Karangasem, Puluhan UMKM Gelar Bazar

GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…

4 hari ago

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…

6 hari ago

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

1 minggu ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

2 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

3 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

3 minggu ago