Categories: BUDAYA

Tilam Upih-Blarak Sineret di Jamasan Tosan Aji Massal

NGLIPAR, Jumat Pon-Puluhan benda pusaka berupa tombak maupun keris milik warga Kecamatan Nglipar dijamasi (red-dimandikan) secara massal. Tombak pusaka Kecamatan Nglipar berpamor Blarak Cineret ikut dimandikan dalam ritual ini, Jumat (20/10).

Jamasan benda pusaka warisan leluhur ini dipusatkan di Padukuhan Wotgaleh, Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar ini membersihkan lebih dari 70 pusaka yang dimiliki warga Nglipar.

Wartoyo, koordinator jamasan tosan aji, mengungkapkan bahwa setiap pusaka memang harus dirawat. Selain untuk menjaga kebersihan pusaka, sekaligus melestarikan budaya adi luhung warisan leluhur.

“Jumlahnya sekitar 70 pusaka, semuanya disucikan dalam jamasan kali ini,” kata Wartoyo.

Dari sekian banyak pusaka yang dijamas, dapur Tilam Upih dan Kebo Lajer mendominasi.

“Dapur Tilam Upih bentuknya seperti anyaman tikar konon bermakna ketenteraman rumah tangga. Sedangkan Kebo Lajer bermakna pemiliknya seperti kerbau yang giat bekerja, cocok dipegang kaum tani,” urai Wartoyo.

Perangkat Desa Pengkol, Nglipar ini juga menjelaskan proses jamasan, awalnya membersihkan minyak yang menempel di keris maupun tombak, kemudian baru digosok jeruk nipis. Setelah bersih baru dikeringkan dan diwarangi, terakhir diberi minyak.

“Diberikan warangan tujuannya untuk menimbulkan pamor pusaka itu sendiri kian bersinar dan minyak pusaka untuk melindungi pusaka supaya tidak karatan,” jelasnya.

Namun demikian, tambah Wartoyo, kalau ada pusaka yang sudah berkarat harus diperlakukan khusus.

“Harus direndam dengan nanas, perasan jeruk nipis atau pace matang  paling tidak 3 sampai 4 hari, baru dibersihkan seperti diatas,” tambahnya.

Sementara itu Drs Witanto, Camat Nglipar mengungkapkan dukungannya atas ritual jamasan tosan aji hari ini.

“Melestarikan jamasan tosan aji sama saja dengan melestarikan budaya. Bahkan tombak pusaka Kecamatan Nglipar kita ikutkan dalam acara ini,” kata Witanto.

Diketahui sebuah tombak pusaka warisan leluhur berdapur Blarak Cineret bersemayam di Kantor Kecamatan Nglipar. Pusaka tersebut konon sudah lama dimiliki Kecamatan Nglipar dan turun temurun hingga saat ini.

Karena pusaka itu adalah tinggalan para leluhur yang mempunyai nilai filosopi kehidupan yang sangat tinggi, sambung Witanto, maka tidak boleh diperlakukan sembarangan. Disisi lain jamasan tosan aji bisa menjadi pendukung pariwisata dan budaya Gunungkidul menuju mercusuar wisata dunia.

 

Reporter : W. Joko Narendro.

infogunungkidul

Recent Posts

Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR, Sambut 11.099 Mahasiswa Baru

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…

3 hari ago

Momentum HUT RI ke-81, SD Muhammadiyah Mulusan II Unjuk Kemajuan

GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, SD Muhammadiyah Mulusan II Padukuhan Mahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, menggelar kegiatan jalan…

3 hari ago

Seorang Kakek asal Gunungkidul Tewas Tertemper Kereta Api

SLEMAN-SENIN PAHING, SEORANG kakek berinisial N (73) warga Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,  DIY tewas…

3 hari ago

Ratusan Kakak Asuh Maba UPN Veteran Yogya Jalani Pelatihan Bela Negara di AAU

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…

3 hari ago

Kekeringan Akibat Kemarau Panjang di Gunungkidul Menjadi Perhatian Banyak Pihak

RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…

7 hari ago

KKN IPB Kenalkan Program Tani Hayati di Gunungkidul

WONOSARI - RABU PAHING, Sebanyak 8 (delapan) mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor…

1 minggu ago