WONOSARI, Senin Wage – Menyebar udik-udik adalah tradisi kraton yang dimaknai sebagai kemurahan raja kepada kawulo (rakyat). Pada rasulan Desa Kepek, Kecamatan Wonosari udik-udik dilakukan dalam arti yang jauh berbeda.
Dihimpun dari berbagai sumber, nyebar Udik-Udik (uang receh bercampur kembang dan beras) merupakan bentuk hadiah raja kepada rakyatnya.
Sebagaimana ditulis solopost.com tradisi udik-udik menjadi awal berlangsungnya perayaan Sekaten, dilanjutkan upacara miyos Gongso atau dikeluarkannya dua gamelan keraton Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nogowilogo.
Kepala Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Bambang Setiawan Budi Santoso menyebar udik-udik, tidak bermaksud menyamai atau meniru tradisi kraton. Dia memetik makna filosofi, sesuai dengan perkembangan jaman.
“Sebagai pemimpin, saya diberi kewenangan menghimpun kekuatan swadaya masyarakat dalam bentuk apa pun. Udik-udik adalah lambang kembalinya swadaya. Dari rakyat kembali ke rakyat,” ujar Bambang Setiawan Budi Santoso, pada peneriamaan kirab Gunungan, (5/8).
Secara simbolis, uang receh, beras dan kembang itu diserahkan oleh salah satu dukuh dalam cething (bakul kecil). Begitu diterima, langsung dikembalikan ke masyarakat dengan cara disebar.
Swadaya, tutur Bambang Setiawan, asalnya dari rakyat. Dengan alasan apa pun, Pemerintah Desa tidak layak menyimpan berlama-lama. Agung Sedayu
GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…