SIAPA yang mengajarkan anak-anak memiliki kelembutan mata hati. Siapa yang membimbing anak-anak memiliki kecerahan mata pikir.
Tidak ada yang lain kecuali para perempuan. Lantaran ibu yang membopong dengan kasih sayang perut selama sembilan bulan sepuluh hari anak-anak menjadi dewasa.
Kaum perempuan mengajari dengan santun agar anak-anak mereka beradab ketika menetek pada kedua susu kasih mulia.
Ini peradaban purba yang mulai dianggap tidak memiliki arti. Jakarta kota tua yang menyimpan sejuta kebrengsekan dianggap sebagai ibu yang sangat bermakna.
Perempuan muda yang belum berumur digiring ke Ibu Kota mengikuti banjir urbanisasi menyongsong asa yang tidak pernah jelas.
Sebagian orang tua yang keblinger atau memang diblingerkan kiblatnya begitu memuja Jakarta yang isinya tidak lebih dari banjir dan sampah.
Di sini cerita Langit Masih Mendung Ki Panji Kusmin begitu terasa. Tuhan memang tidak melarang anak-anak perempuan bermukim di sudut bumi mana pun.
Tetapi Nabi akhir zaman mengingatkan menghormati ibu lipat tiga kali, lebih utama ketimbang takzim kepada bapak.
Untuk apa menjadi pemuka di ibu kota tetapi melupakan kemuliaan telapak kaki ibunda yang bermukim di sudut desa.
Jakarta memang gemerlap tetapi menyilaukan mata. Tidak sedikit perempuan muda yang menjadi buta. dan ketika rindu pada ibunda yang membesarkannya mereka tidak gagap pulang. Mereka merangkak dan meraba-raba.
Tanah kelahiran Gunungkidul dihuni oleh 390.977 perempuan perkasa. Mereka adalah penyangga kehormatan, mengapa Bupati harus menggiring perempuan ke metropolitan.
Ini hanya pertanyaan dungu warga desa yang kehilangan perempuan yang dipreteli martabat dan harga dirinya. Memimpin dari Gunungkidul itu lebih dari cukup. Ke Batavia para perempuan tidak akan bisa berbuat apa-apa karena Jakarta adalah kota penjara. (Bambang Wahyu Widayadi)






