NGLIPAR-MINGGU PAHING | Menjelang Pemilukada November 2024, pupuk dan benih padi menjadi komoditas politik untuk meraup suara. Penduduk berprofesi petani sasaran empuk, karena jumlahnya dua ratus ribu lebih.
Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.PD. bacalon Bupati Gunungkidul mulai bergerak. Dia berjualan isu seksi, tentang keluh kesah petani dalam memperoleh pupuk dan benih padi di setiap musim tanam (MT), baik MT 1 MT 2 maupun MT 3.
Profesor Sutrisna Wibawa Bacalon Bupati yang berpasangan dengan Sumanto, SE menyatakan, Gunungkidul perlu laboratorium pertanian yang dikolaborasikan dengan pariwisata. Konsep itu dia sebut Nian Wisata.
Selaku Ketua Koperasi Jejaring Jasa Usaha (KJJU) Prof. Sutrisna Wibawa membuat proyek percontohan di Dusun Klegung, Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul.
Alasan pembuatan pilot project di Dapil 2, utamanya di Nglipar adalah langkah awal, karena jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani cukup besar.
Pilot project di Klegung berupa perpaduan antara pertanian dengan destinasi Pesona Lembah Serasi Sungai Oya (Nambah Seroya).
“Gerakan Prof. Sutrisna Wibawa diawali dengan penyerahan bantuan pupuk organik 8,5 ton yang diserahkan pada waktu sarasehan bersama kelompok tani, jadi tidak semata-mata kelihatan kampanye,” kata Jumawan Lurah Desa Katongan, 29-7-2023.
Padahal, lanjut Jumawan, CB Supriyanto, mantan Ketua Dewan Kebudayaan, bertugas sebagai juru bicara. Sementara itu kampanye resmi menurut PKPU terbaru dimulai 28 November 2023.
Tidak, bantah CB Supriyanto, menampik dugaan Jumawan. Dia mengaku, pertemuan pada 20-7-2023 itu adalah sebagai fasilitator sarasehan terkait dengan kebudayaan.
“Moderator sarasehan Dr. Supriyadi, dosen pada Universitas Muhammadiyah Surakarta,” kata CB Supriyanto.
Dikutip dari data Dirjen Dukcapil 2023, pada semester dua 2022, Petani Kapanewon Patuk 8.020, Nglipar 8.207, Gedangsari 10.489 dan Ngawen 7.733. Ini petani Dapil 2, total 34.809 orang.
Tentang penduduk yang yang berprofesi sebagai petani, seluruh Gunungkidul berjumlah 210.569 orang. Menurut sebagian pengamat politik, Prof. Sutrisna Wibawa mengangkat isu pertanian adalah tepat.
“Pertanyaannya Sutrisna Wibawa konsisten atau tidak,” kata Joko Priyatmo (Jepe).
Menurutnya proyek percontohan Nambah Seroya yang di Nglipar itu multi tafsir. Di satu sisi menjelang Pilkada 2024 merupakan bantuan, terapi selesai pemilihan kepala daerah berbalik menjadi bisnis murni.
“Itu terlihat dari lembaga KJJU yang defakto dejure diketuai Prof. Sutrisna Wibawa merupakan jejaring jasa usaha ekonomi kelas regional,” ulas Jepe.
Merujuk penjelasan Ir. Raharjo Yuwono, sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, bantuan pupuk organik tersebut hanya cukup untuk memupuk lahan seluas 28,33 ha.
“Sebab tiap satu hektar tanaman padi baik sawah maupun tadah hujan memerlukan pupuk sebanyak 300 kg, terdiri dari 200 kg urea, 100 kg Tsp,” terang Raharjo Yuwono.
Menurut keterangan Raharjo Yuwono, luas sawah tadah hujan MT 1 seluas 42.000 Ha, dan 7.863 Ha sawah irigasi teknis, total 49.863 Ha.
Jika proyek percontohan di Klegung Nglipar mau diduplikasi ke seluruh Gunungkidul, maka bantuan pupuk organik yang dibutuhkan cukup besar
Sementara menurut penjelasan Dr. Supriyadi, Prof. Sutrisna Wibawa, pada tahap awal menyiapkan bantuan pupuk 10.000 ton.
Jumlah rumah tangga petani seluruh Gunung kidul adalah Dapil 1. 23. 857, Dapil 2. 34.809
Dapil 3. 39.534, Dapil 4. 56.142, Dapil 5. 47.410, total 210.569 rumah tangga petani (RTP).
(Bambang Wahyu).













