Ironi Pendidikan Karakter: Ketika Orang Tua Lepas Tangan dan Pesantren Jadi Kambing Hitam

7449
Oleh: Dzul Qurnain Abdulloh – Mahasiswa STIT Madani Yogyakarta.

 

KEHIDUPAN manusia tidak bisa dilepaskan dari pendidikan. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai alat pewarisan ilmu pengetahuan, tetapi juga sarana pembentukan karakter. Bahkan, pendidikan yang tepat dapat mengubah nasib seseorang secara total.

Kita bisa menengok sejarah bangsa Arab yang awalnya tidak diperhitungkan, kemudian tampil memimpin peradaban dunia setelah mendapat bimbingan dan pendidikan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun, hari ini kita menyaksikan ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, pendidikan karakter menjadi jargon yang dielu-elukan oleh institusi pendidikan, tidak terkecuali pendidikan berbasis pesantren. Tapi di sisi lain, tanggung jawab utama pembentukan karakter justru diabaikan oleh pihak yang paling dekat dengan anak: orang tua.

Sebagian besar masyarakat masih memaknai pendidikan sebatas ruang kelas. Ketika berbicara tentang Pendidikan yang menanamkan akhlak dan karakter, yang muncul pertama kali di benak adalah pesantren.

Pandangan inilah yang membuat banyak orang tua merasa cukup dengan memasukkan anak di pesantren, tanpa merasa perlu ikut serta membentuk nilai dan karakter anak mereka.

Padahal, lingkungan terdekat anak yaitu keluarga adalah ruang belajar pertama dan paling berpengaruh dalam membentuk siapa ia kelak. Anak belajar dari apa yang ia lihat dan rasakan setiap hari. Dan dalam proses itu, orang tua menjadi figur sentral yang menentukan arah.

Orang Tua adalah Role Model Pertama

Anak-anak secara naluriah meniru apa yang mereka lihat dari orang tuanya. Cara berjalan, berbicara, menyikapi emosi, hingga menghadapi situasi sulit semua direkam dan ditiru tanpa perlu diajarkan secara formal. Oleh sebab itu, orang tua disebut sebagai role model utama dalam pendidikan karakter.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa orang tua bukan hanya bertanggung jawab dalam hal duniawi, tetapi juga dalam membentuk nilai, keyakinan, dan akhlak anak.

Karakter seperti kejujuran, kerja keras, kedisiplinan, dan ketakwaan tidak bisa tumbuh begitu saja hanya dengan mendengarkan ceramah di kelas. Ia butuh keteladanan nyata, yang paling awal dan paling kuat didapatkan dari rumah.

Saat Orang Tua Lepas Tangan, Sekolah Jadi Kambing Hitam

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah, termasuk pendidikan karakter. Ketika anak mulai menunjukkan perilaku negatif, tidak jarang orang tua langsung menyalahkan sekolah atau pesantren.

Di forum penerimaan santri baru, kalimat seperti ini kerap terdengar: “Ini saya serahkan sepenuhnya ke pihak pesantren, Ustadz. Kalau bandel, silakan dijewer.”

Lebih menyedihkan lagi, banyak orang tua menganggap pesantren sebagai “bengkel anak rusak” tempat menitipkan anak yang sudah mengalami krisis etika atau perilaku menyimpang.

Alih-alih membangun komunikasi yang hangat, sebagian orang tua memilih mencari lembaga yang bisa “memperbaiki” anak tanpa ikut ambil bagian dalam prosesnya.

Padahal, problem yang dihadapi anak sering kali merupakan cerminan dari rumah. Komunikasi yang dingin, hubungan orang tua yang tidak harmonis, serta minimnya keteladanan semua itu berkontribusi pada pembentukan karakter negatif dalam diri anak.

Akhirnya, ketika pendidikan di sekolah atau pesantren tidak menunjukkan hasil sesuai harapan, yang disalahkan adalah gurunya. Padahal, nilai-nilai buruk yang telah tertanam dalam diri anak selama bertahun-tahun tidak bisa diubah dalam hitungan bulan oleh lingkungan sekolah saja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan kepada para orang tua melalui firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan keluarga ada di pundak kepala rumah tangga. Guru, ustadz, atau pesantren hanya pelengkap. Peran utamanya tetap milik orang tua.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Jika ingin melihat anak-anak tumbuh dengan karakter yang kuat, maka sinergi antara keluarga dan sekolah menjadi keharusan. Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua:

1. Menyamakan visi pendidikan dengan sekolah atau pesantren.
Diskusikan nilai-nilai inti apa yang ingin ditanamkan kepada anak, dan bagaimana metode penanaman yang digunakan.

2. Menjaga komunikasi dan kedekatan emosional dengan anak.
Walaupun anak tinggal di pesantren, tetap jalin hubungan yang hangat melalui kunjungan atau menelfon anak di waktu-waktu tertentu.

3. Menjadi perpanjangan tangan pesantren di rumah.
Terapkan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Rumah harus menjadi tempat yang selaras dengan nilai yang dipelajari anak, bukan justru sebaliknya.

Karakter Tidak Dibentuk Sekejap

Pendidikan karakter bukan hasil instan. Ia bukan hasil dari seminar sehari atau program sepekan. Karakter adalah buah dari proses panjang dari pengulangan, pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang konsisten.

Mengubah karakter buruk menjadi karakter baik bisa jadi memerlukan waktu bertahun-tahun, tergantung seberapa dalam pola lama telah tertanam.

Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara orang tua, ustadz, dan pengasuh di pesantren/sekolah untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.

Ikuti infogunungkidul di Facebook, Instagram, dan WA Channel



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.