WONOSARI, Senin Legi – Konsep dasar pemilihan Dimas Diajeng (DD) Gunungkidul 2017 tidak jelas. Targetnya sangat besar, sementara output (keluarannya) diragukan. Soenardi, politisi Partai Gerindra anggota DPRD Gunungkidul bahkan menyebut, festival DD sebagai besar pasak daripada tiang.
Tema besar yang diusung, demikian Sunardi mengutip pernyataan Saryanto Kadis Pariwisata Gunungkidul, Hangudi Karya Murih Rahayuning Bumi Handayani.
“Tajuk di atas tidak main-main. Itu beban berat bagi sang juara,” ujar Soenardi (18/09).
Dia melihat lebih jauh, pemegang juara DD 2017 memikul tanggungjawab besar. Pasalnya, menurut Soenardi, mereka juga dinobatkan sebagai supoorting agent (agen pendukung) bidang pariwisata.
Lebih berat lagi, DD 2017 dianggap sebagai representasi pemuda pemudi terbaik Gunungkidul yang dalam hal ini inspiratif, cerdas, dan berbudaya.
“Diambil secuil tugas duta wisata, DD harus mampu mengundang investor pariwisata tanpa menjual bumi Handayani,” tantang Soenardi.
Menurutnya, saat ini banyak berdatangan investor pariwisata tetapi sekaligus menjadi pembeli tanah potensial. Ujung-ujungnya, warga Gunungkidul sebatas menjadi pekerja pariwisata. Mereka menjadi kuli, di tanah kelahiran. Para majikan adalah orang-orang dari luar Gunungkidul.
“Pertanyaannya, mampukah juara DD 2017 melakukan bargaining (tawar-menawar) dengan para investor pariwisata,” tanya Soenardi meragukan.
Bambang Adi Waluyo, Staf Fraksi Gerindra membuka jejak pemenang DD 2015 menyatakan, bahwa kiprahnya tidak sejauh yang dipikirkan Soenardi.
“Pemegang DD 2015 banyak berkunjung ke tempat wisata, juga kuliner, seperti pejabat pemerintah melakukan inspeksi mendadak,” ungkapnya.
Dua kritikan tajam mengenai festival DD 2017 dilempar publik. Sejauh ini, Dinas Pariwisata belum merespon atau memberikan pembelaan maupun klarifikasi. Agung Sedayu













