OPINI

ADA “KUNANG-KUNANG” DI MATA PARA POLITISI GUNUNGKIDUL

POLITISI lokal (Gunungkidul) terbelah: sebagian kecil berada di ranah eksekutif, sebagian besar lainnya berada di tataran legeslatif. Mereka satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, meski fakta politik menunjukkan kreatifitas pemikiran mereka berpihak kepada rakyat atau kepada siapa masih sangat kabur.

Ideomatika Jawa menyebutkan, Bupati dan Wakil Bupati dengan 45 anggota DPRD itu seperti godhong suruh lumah lan kurebe, dinulu seje rupane ginigit tunggal rrasane.

Dua kubu politisi yang berjalan seirama itu acap kali berbeda pandangan karena fungsi serta kewenangan. Dalam hal mengembangkan dunia agraris misalnya seharusnya mereka saling support. Sayang sekali hal itu tidak terjadi.

Dunia pertanian secara umum memberikan kontribusi besar terhadap kesejahteraan warga tetapi penekanan ke arah pembangunan pertanian tidak dilakukan secara serius.

Di mata eksekutif dan legeslatif ada semacam “kunang-kunang”, ada fatamorgana yang menyilaukan sehingga puluhan tahun tidak diselesaikan dengan baik.

Produk Domestik Bruto (PDRB) dalam buku Informasi Pembangunan Tahun 2019 halaman 15 diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi. Tahun 2020 secara makro PDRB melambat 0,54%.

PDRB Gunungkidul atas dasar harga konstan (ADHK) selama 2010-2020 hanya sebesar Rp 18.947.200.000.000,00 karena minus 0,54% atau berkurang sebanyak Rp 102.314.880.000,00. Alasan klise yang dikemukakan Eksekutif karena pandemi. Sisi lain, pihak legeslatif tidak menyumbangkan pikiran kritisnya.

Khusus tahun 2020, pertumbuhan PDRB pun melambat 0,68% dari Rp 13.605,1 milyar menjadi Rp 13.513,2 milyar.

Meski terjadi pelambatan pertumbuhan di tahun 2020, tetapi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi penyumbang terbesar terhadap PDRB yakni 24,67%. Berikutnya diikuti sektor administrasi pemerintahan 9,39% dan sektor perdagangan 9,15%, sementara sumbangan pariwisata terhadap PDRB tidak pernah disebut.

Fakta dan data menunjukkan bahwa pertanian dalam pengertian umum memberikan kontribusi terbesar pada “kesejahteraan” warga Gunungkidul.

Publik bertanya, mengapa pertanian tidak pernah diangkat menjadi icon atau ‘trade mark’ pembangunan di Gunungkidul, dan para politisi menjawab dengan gaya dan kemapuan mereka masing-masing. (Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Hari Jadi Karangasem, Puluhan UMKM Gelar Bazar

GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…

2 hari ago

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…

4 hari ago

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

7 hari ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

2 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

2 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

3 minggu ago