OPINI

BAHASA TULIS POTENSI TERJADI SALAH PAHAM

SAYA menulis berita dan artikel sejak tahun 1979. Lama dan sebentarnya sebagai penulis, berdasarkan pendapat Prof. Teeuw, tidak menjamin zeronya kesalahpahaman.

Tulisan saya justru banyak tidak disukai oleh pihak tertentu. Saya harus menerima, karena itu resiko ketika saya tidak berpihak kepada siapa pun, kecuali kepada kebenaran.

Prof. A. Teeuw melalui buku Satra Dan Ilmu Sastra, dengan sub-judul Pengantar Teori Sastra mengingatkan, menggunakan bahasa tulis harus super hati-hati. Berbeda dengan bahasa lisan, bahasa tulis memiliki tujuh ciri.

Penulis dan pembaca, terang A. Teeuw mengutip penjelasan Uhlenbeck kehilangan unsur suprasegemental, paralinggual sehingga antara penulis dan pembaca mudah terjadi salah paham.

Yang dimaksud unsur suprasegmental, papar Prof. A. Teeuw, mencakup intonasi berupa aksen, tekanan kata, tinggi rendahnya nada, keras lemahnya suara dan lain sebagainya, ciri pertama.

Komunikasi menggunakan bahasa tulis, penulis dan pembaca tidak ada hubungan fisik. Ini ciri bahasa tulis yang kedua.

Yang ketiga, kata Teeuw, naskah anonim merupakan contoh, bahwa penulis tidak hadir, sehingga pembaca hanya bisa menerka secara imajinatif identitas penulis berdasarkan data berupa kata dan kalimat yang tersedia.

Bahasa tulis mungkin makin lepas dari kerangka referensi aslinya. Penulis memaparkan sesuatu berdasarkan situasi pribadi, sosial dan yang lain, pembaca tidak menangkap kerangka acuan untuk memahami tulisan yang dimaksud, ciri ke-4.

Kelebihannya, demikian ciri bahasa tulis yang ke-5, naskah bisa dibaca secara berulang-ulang, manakala dibaca sekali belum ditemukan pesan yang hendak disampaikan penulis.

Pembaca yang terlibat dalam komunikasi bahasa tulis, menurut Teeuw bisa sangat besar, karena bahasa tulis bisa dicetak ribuan bahkan jutaan manuskrip, ciri ke-6.

Ciri ke-7, bahasa tulis terbuka komunikasi jarak jauh, di samping fisik, juga latar belakang kebudayaan. Ini berpengaruh besar dalam hal memahami pesan bahasa tulis.

Dengan hadirnya aplikasi komunikasi media sosial, dalam hal menggunakan bahasa tulis menjadi tanpa batas. Dan kesalahpahaman mudah terjadi.

Dalam momentum pesta demokrasi, bukan sesuatu yang aneh jika masyarakat mudah terpecah-belah karena beda dukungan. Baku hantam sering terjadi, saling ejek selalu dilakukan. Sarananya media sosial, bahasa yang digunakan adalah bahasa tulis yang oleh Prof. Teeuw disebut telah kehilangan elemen suprasegemental. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

4 hari ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

2 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

2 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

3 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

3 minggu ago