“Tidak ada ritual khusus untuk mengambil bambu-bambu tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut Suhartoyo menyampaikan, tak semua orang bisa melihat bambu unik tersebut. Meskipun Ia tidak harus menjalani ritual di saat pengambilan, namun ia mampu merasakan adanya barang yang tak bisa dilihat dengan kasat mata oleh orang lain.
“Sejak duduk di bangku SMP kelas 2 saya memang sudah dididik oleh almarhum bapak untuk selalu prihatin, jadi mungkin ini hanya prihatin saja, makan pun dulu hanya nasi putih saja, tidak makan daging, namun setelah saya menikah saya mulai mengurangi kebiasaan saya seperti itu,” ucapnya.
Suhartoyo mengakui, koleksi bambu-bambu unik yang ia dapatkan juga laku laris di lapaknya. Bahkan bambu yang berjenis Ekor Naga pernah ditawar oleh orang dengan harga Rp 1 juta. Dengan tawaran harga tersebut, ia tidak mau melepaskan lantaran sulit untuk mencarinya.
“Jika memang ada orang yang membutuhkan ataupun memesan, mungkin saya bisa mencarikan,” pungkasnya. (hr)
Page: 1 2
YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…
RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…
WONOSARI - RABU PAHING, Sebanyak 8 (delapan) mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta, M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…