“Tidak ada ritual khusus untuk mengambil bambu-bambu tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut Suhartoyo menyampaikan, tak semua orang bisa melihat bambu unik tersebut. Meskipun Ia tidak harus menjalani ritual di saat pengambilan, namun ia mampu merasakan adanya barang yang tak bisa dilihat dengan kasat mata oleh orang lain.
“Sejak duduk di bangku SMP kelas 2 saya memang sudah dididik oleh almarhum bapak untuk selalu prihatin, jadi mungkin ini hanya prihatin saja, makan pun dulu hanya nasi putih saja, tidak makan daging, namun setelah saya menikah saya mulai mengurangi kebiasaan saya seperti itu,” ucapnya.
Suhartoyo mengakui, koleksi bambu-bambu unik yang ia dapatkan juga laku laris di lapaknya. Bahkan bambu yang berjenis Ekor Naga pernah ditawar oleh orang dengan harga Rp 1 juta. Dengan tawaran harga tersebut, ia tidak mau melepaskan lantaran sulit untuk mencarinya.
“Jika memang ada orang yang membutuhkan ataupun memesan, mungkin saya bisa mencarikan,” pungkasnya. (hr)
Page: 1 2
YOGYAKARTA - SABTU KLIWON, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar serah terima jabatan Direktur Reserse Kriminal…
YOGYAKARTA - JUM'AT WAGE, PUCUK pimpinan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi berganti, setelah Kapolri…
BANTUL - KAMIS WAGE, POLISI mengungkap kasus dugaan penggelapan sejumlah barang milik sebuah toko grosir…
PENDIRI Ikatan Wartawan Online (IWO) akan menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) perdana pada tahun 2026. Dalam…
GUNUNGKIDUL - SABTU LEGI, Pemilihan Lurah (Pilur) serentak di Kabupaten Gunungkidul telah terlaksana, Sabtu (26/09/26).…
GUNUNGKIDUL – SABTU LEGI, Polemik pembongkaran Mushola Watu Bolong Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul…