BERBAGAI tanda berbentuk gambar tertentu yang muncul di atas kain kafan pembungkus tembikar Cupu Panjala selama ini dimaknai dari segi klenik. Ini satu paham yang cenderung menyeret pikiran manusia menyimpang dari kebenaran spiritual yang haq.
Keramik yang ditemukan Ki Sayek warga Mendak, Giri Sekar, Kapanewon Panggang, GunungkIdul DIY oleh si tukang pencari ikan di pesisir selatan beberapa puluh atau ratus tahun silam sesungguhnya tidak memiliki daya apapun.
Tembikar Semar Tinandu dan lain-lainya itu dibuat oleh manusia ahli memang iya, meski tidak diketahui secara pasti kapan benda itu diproses. Yang jelas bahan dasarnya adalah milik Allah SWT. Ini tidak bisa dibantah, karena semua yang tergelar di atas bumi di bawah langit adalah ciptaan-Nya.
Di dalam Surat Al-Baqarah Ayat 164 ditegaskan,” Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”
Tembikar yang ditemukan Ki Sayek tidak hebat, tidak ada kekuatan apa pun. Yang maha hebat adalah pemilik-Nya, Allah Ta’la. Kesadaran begini penting, agar dalam memahami Cupu Pahala tidak kesasar.
Benda yang selalu dibungkus kain kafan berlapis-lapis tersebut dibuka oleh Juru Rumat Dwija Sumarta setiap Mangsa Kapat, guna mengetahui gambaran alam pertanian setahun ke depan (2022-2023).
Bukan barang aneh, jika di atas permukaan mori putih itu kemudian muncul gambar yang mirip kulit kayu, daun jagung, bulir padi, pohon jati, sapi, kera, bahkan manusia.
Beruntung, para petani mendapat sinyal tentang kemungkinan kondisi ekonomi setahun ke depan. Sesuai perkembangan gambaran yang muncul di dalam mori pembungkus Cupu Panjala bergeser ke ranah politik, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya.
Juru Rumat, atau Juru Kuci Cupu Panjala, Ki Dwija Sumarta sebelum membuka Cupu, faktanya memang tidak lepas dari upacara tertentu dengan membakar kemenyan dan komat-kamit melafal mantra.
Ini tidak perlu dipikir serius, karena Ki Dwijo Sumarto dalam memandu upacara ada kepentingan tertentu, maaf tidak etis jika disebutkan. Publik cukup paham, bahwa dalam prosesi pra upacara ada abon-abon, yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan sejumlah gambar yang kemungkinan bakal muncul pada kain kafan.
Pemahaman soal pembukaan Cupu Panjala pada Senin Wage malam Selasa Kliwon tanggal 10 malam 11 Oktober 2022 secara teologis harus diperbaharui. Apa pun yang terlukiskan dalam kain kafan perlu dikembalikan kepada Allah SWT. Manusia tidak bakal mampu menafsirkan tanda-tanda alam, karena hal tersebut bukan ranah dan kewenangannya.
GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…