WONOSARI-KAMIS LEGI | Soffyan (25) warga Bidara Cina, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, setelah jenuh diuber-uber Sat Pol PP karena mengasong, kini memilih menunggu WC di sebuah sub terminal angkot.
Penghasilan per hari tetap kecil, tetapi terasa besar karena hatinya tenang, tidak trataban ketika melihat seragam Polisi Pamong Praja.
Dia hidup bersama Imam satu-satunya anak lelaki dan istrinya Nurjanah dalam kesederhanaan dan kejelataan di rumah batu ukuran selonjor saja susah peninggalan mertuanya.
Ketika jadi pengasong, Soffyan pernah kepergok Sat Pol PP kemudian digelandang ke markas dan diperingatkan, di Ibu Kota, kata Kepala Sat Pol PP, tidak boleh mengasong.
Soffyan tertawa dalam hati karena ingat tulisan di sebuah Bajay, Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota.
Dia disuruh kerja yang lain, tanpa diberi tahu pekerjaan yang pas untuknya. Habis diintrogasi Soffyan dilepas.
Sial, Soffyan ketangkep untuk yang kedua kalinya. Dagangan yang berupa permen dan minuman segar digaruk ditumpuk di gudang. Dia diperintah push up sampai napasnya mau pedot, kemudian disuruh pulang tanpa kotak dan dagangan.
Orang namanya gak ada kerjaan selain mengasong, Soffyan kembali berjualan dan kembali dibekuk Sat Pol PP. Kali ini dia dijebloskan dalam kurungan selama 10 hari.
Soffyan malah gembira, karena nganggur, tetapi makan dijamin, bahkan ful gizi. Dikurung Pak Polisi, ternyata malah enak, ucap Soffyan dalam pikirannya.
Berada dalam sekapan tak sedikitpun dia merasa khawatir tentang bagaimana istri dan anaknya mencari makan. Dia, habis sholat berjamaah selalu mengajarkan kemahamurahan Allah SWT kepada mereka.
Allah bertanggungjawab memberi rizki yang datangnya tidak disangka-sangka.
Keluar dari kurungan Soffyan dapat inspirasi, ingat teman sekolah sama-sama dari Gunungkidul sukses dalam bisnis jasa kamar mandi. Dia menemui Rahman teman lamanya.
Tidak pakai basa-basi Soffyan minta jatah satu unit sebagai pengganti pekerjaan sebagai pengasong.
“Kamu mau Soff jaga di situ seharian? tanya Rahman.
Soffyan yang oleh teman-temannya disapa Soff yang maknanya barisan mengangguk dengan kesempatan pembagian hasil 50:50.
Seminggu, sebulan, setahun, hingga 25 tahun Soffyan yang dulu pengasong, kini penunggu WC berhasil mengentaskan anak semata wayang menggondol titel sarjana hukum yang kini bekerja di salah satu lembaga advokasi rakyat jelata.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” As-Saff Ayat 4.
Soffyan bekerja (menyusun barisan) dengan jujur, dia tidak berniat menumpuk harta, karena harta dia anggap kenikmatan yang derajatnya paling rendah. Pada usia 55 tahun dia masih setia menunggu WC.
Sebagian Rizki yang dia peroleh diam-diam dia dibantukan kepada tetangga yang sangat memerlukannya. (Bambang Wahyu)








