WONOSARI-MINGGU WAGE | Sebelum pariwisata dan kebudayaan Gunungkidul dipisah menjadi dua organisasi pemerintah daerah (OPD) pernah diterbitkan buku bertajuk potensi kebudayaan dan kepariwisataan.
Dalam buku itu Team Penyusun menyebutkan bahwa ada lima pintu gerbang wisata masuk ke Kabupaten Gunungkidul.
Pintu pertama dari arah Yogyakarta sepanjang 70 km melalui Patuk, Wonosari, Baron, Kukup, Krakal, Drini, berakhir di pantai Sundak.
Pintu kedua dari Parang Tritis Bantul, jarak tempuh 74 km. Start dari Yogyakarta, Parangtritis, Trowono Saptosari, Kemadang, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Sundak.
Pintu ketiga melalui Solo dan Sukoharjo Ngawen, Semin, Karangmojo, Semanu panggul, Jepitu, Wediombo, Tepus berjarak 55 km.
Pintu ke empat berjarak tempuh 55 km melalui Wonogiri Pacitan, Pracimantoro, Rongkop Jeruk Wudel, Jepitu, Tepus.
Gerbang kelima melalui Pacitan dan Wonogiri, Pracimantoro, Girisubo, Sadeng berjarak 60 km.
Masuknya pelancong dari luar Gunungkidul dimaknai sebagai berbelanja baik dalam bentuk membeli karcis retribusi maupun jajan kuliner cindera mata dan menginap. Ditilik dari titik itu benar jika disebut bahwa pariwisata mendongkrak ekonomi.
Ketika disandingkan dengan Visi Bupati Gunungkidul H. Sunaryanta dalam RPJMD 2021-2026 yang berbunyi, “terwujudnya peningkatan taraf hidup masyarakat Gunungkidul yang bermartabat tahun 2026,” capaian kesejahteraan tersebut belum sinkron.
PAPEDA Gunungkidul menjabarkan, bahwa yang dimaksud terwujudnya peningkatan taraf hidup adalah satu kondisi derajat atau mutu kehidupan masyarakat yang terus meningkat.
Menurut BAPEDA, yang dimaksud masyarakat adalah semua individu yang hidup dan berkehidupan di kabupaten Gunungkidul, atau semua manusia yang menggantungkan hidupnya dari sumber daya jaringan perekonomian dan jaringan sumber daya pendapatan yang berada di Gunungkidul.
Bermartabat dimaknai sebagai terpenuhinya hak seseorang untuk dihargai dihormati, diperlakukan secara etis serta berkeadilan sesuai dengan harkat sebagai manusia dan warga negara baik dalam bidang agama moralitas etika hukum sosial politik dan ekonomi.
Manusia yang bermartabat menurut BAPEDA Gunungkidul adalah manusia yang menikmati umur panjang dapat hidup bahagia mempunyai akses luas terhadap pengetahuan dan dapat hidup layak.
Perkembangan pariwisata di gunung Kidul dikaitkan dengan visi Bupati terlebih dikaitkan dengan konstitusi sangat jauh.
Faktanya duit pariwisata baru mengangkat kesejahteraan sebagian warga Gunungkidul, belum seperti amanat konstitusi, untuk kesejahteraan seluruh warga Gunungkidul. (Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…
NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…