OPINI

Garam Berubah Pahit, Pertanda Petani Mulai Tergusur?

WONOSARI, Selasa Pon – Krisis garam lagi-lagi terjadi, setelah sebelumnya pernah terjadi tahun 1997 dan 2010. Selama 6 tahun kita belum juga belajar. Tahun 2017, saat krisis garam kembali menghantam, bahkan bisa dikatakan lebih parah dari yang sebelumnya, cuaca lagi-lagi menjadi kambing hitam.

Padahal seperti yang kita semua tahu, Indonesia adalah negara kepulauan dengan 2/3 bagian berupa perairan. Jika dipikir secara logika, harusnya Indonesia memiliki banyak persediaan garam yang melimpah. Lalu, bagaimana bisa Indonesia mengalami krisis garam, bahkan sampai harus mengimpor garam?

Indonesia membutuhkan garam sebanyak 4,3 juta ton per tahun, mencakup garam industri dengan kadar Natrium Klorida (NaCl) di atas 97 persen atau garam konsumsi yang kadar NaCl-nya di bawahnya. Sebanyak 1,8 juta ton di antaranya dipasok dari dalam negeri, kebanyakan untuk garam konsumsi yang kini langka. (sumber: tempo.co).

Coba intip negara tetangga, Australia, pada tahun 2010, dengan luas lahan sekitar 3.000 hektare saja, mereka mampu memproduksi 1,4 juta ton garam industri per tahun. Dan itu baru satu lokasi saja. (sumber : sainsindonesia.co.id). Bandingkan dengan Indonesia yang lahannya berkali lipat.

Imbas krisis garam ini mungkin tak dirasakan secara langsung oleh semua lapisan masyarakat. Tidak seperti kalau bahan bakar minyak (BBM) atau padi. Mungkin  garam memang bukan sesuatu yang penting. Cuma para peternak, produsen ikan asin dan produsen kerajinan kulit saja yang terkena imbas.

Padahal kekurangan yodium yang terkandung dalam garam bisa berakibat fatal, mulai dari pertumbuhan terganggu, gondok, IQ rendah, hingga keguguran.

Jika masalahnya ada pada cuaca yang tak menentu, teknologi seharusnya bisa menjadi jalan keluar. Para produsen garam harus secepatnya beralih memproduksi garam secara modern, agar bisa memproduksi garam lebih baik lagi. Perlahan-lahan, tinggalkan cara-cara tradisional yang mengandalkan cuaca dan sinar matahari. Jangan malu belajar pada negeri tetangga. Kalau tidak, entah berapa tahun lagi bisa dipastikan industri garam Indonesia akan semakin terpuruk atau bisa jadi akan diambil alih oleh negara-negara lain.

 

Penulis: Devi Erhma

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

5 hari ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

2 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

2 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

3 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

4 minggu ago