Garam Berubah Pahit, Pertanda Petani Mulai Tergusur?

48

WONOSARI, Selasa Pon – Krisis garam lagi-lagi terjadi, setelah sebelumnya pernah terjadi tahun 1997 dan 2010. Selama 6 tahun kita belum juga belajar. Tahun 2017, saat krisis garam kembali menghantam, bahkan bisa dikatakan lebih parah dari yang sebelumnya, cuaca lagi-lagi menjadi kambing hitam.

Padahal seperti yang kita semua tahu, Indonesia adalah negara kepulauan dengan 2/3 bagian berupa perairan. Jika dipikir secara logika, harusnya Indonesia memiliki banyak persediaan garam yang melimpah. Lalu, bagaimana bisa Indonesia mengalami krisis garam, bahkan sampai harus mengimpor garam?

Indonesia membutuhkan garam sebanyak 4,3 juta ton per tahun, mencakup garam industri dengan kadar Natrium Klorida (NaCl) di atas 97 persen atau garam konsumsi yang kadar NaCl-nya di bawahnya. Sebanyak 1,8 juta ton di antaranya dipasok dari dalam negeri, kebanyakan untuk garam konsumsi yang kini langka. (sumber: tempo.co).

Coba intip negara tetangga, Australia, pada tahun 2010, dengan luas lahan sekitar 3.000 hektare saja, mereka mampu memproduksi 1,4 juta ton garam industri per tahun. Dan itu baru satu lokasi saja. (sumber : sainsindonesia.co.id). Bandingkan dengan Indonesia yang lahannya berkali lipat.

Imbas krisis garam ini mungkin tak dirasakan secara langsung oleh semua lapisan masyarakat. Tidak seperti kalau bahan bakar minyak (BBM) atau padi. Mungkin  garam memang bukan sesuatu yang penting. Cuma para peternak, produsen ikan asin dan produsen kerajinan kulit saja yang terkena imbas.

Padahal kekurangan yodium yang terkandung dalam garam bisa berakibat fatal, mulai dari pertumbuhan terganggu, gondok, IQ rendah, hingga keguguran.

Jika masalahnya ada pada cuaca yang tak menentu, teknologi seharusnya bisa menjadi jalan keluar. Para produsen garam harus secepatnya beralih memproduksi garam secara modern, agar bisa memproduksi garam lebih baik lagi. Perlahan-lahan, tinggalkan cara-cara tradisional yang mengandalkan cuaca dan sinar matahari. Jangan malu belajar pada negeri tetangga. Kalau tidak, entah berapa tahun lagi bisa dipastikan industri garam Indonesia akan semakin terpuruk atau bisa jadi akan diambil alih oleh negara-negara lain.

 

Penulis: Devi Erhma




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.