WONOSARI, Selasa Pon – Gejala bunuh diri bisa dikelompokan menjadi tiga jenis. Bunuh diri individual, massal, serta bunuh diri struktural. Ketiga jenis saling berkaitan, satu mempengaruhi yang lain. Selama ini, pandangan orang hanya tercurah pada bunuh diri individual.
Banyak analisis tentang motif orang bunuh diri. Semakin banyak pisau analisa, semakin tidak terpahami mengapa orang memilih bunuh diri. Semakin banyak orang mencoba mengantisipasi bunuh diri, semakin tertutup jalan menuju pintu ke luar.
Ketika bunuh diri dianggap sebagai problem sosial, sesungguhnya telah tersedia jalan keluar yang pasti. Celakanya, sebagian besar orang yang hidup di abad 21, terlanjur tidak percaya tentang adanya kepastian. Kata mereka, di dunia ini tidak ada kepastian, yang ada adalah ketidakpastian.
Bunuh diri karena pilihan (individual), bunuh diri karena iseng (massal) dan bunuh diri karena status sosial (struktural), kali ini sedang berlangsung.
Bunuh diri karena pilihan, banyak ditemukan dalam bentuk gantung diri (gandir). Hal itu bisa terjadi di belahan bumi manapun, di tanah air, tidak terbatas di Gunungkidul.
Kalau di Bumi Handayani terjadi secara bertubi-tubi, itu menarik untuk diteliti, bukan dihujat apalagi dirasani, atau dikaitkan dengan mitos tertentu.
Berbeda dengan bunuh diri karena iseng. Akibat bunuh diri karena iseng, bisa mati beneran, tetapi juga bisa hanya setengah mati.
Bunuh diri karea iseng, sangat berbahaya karena manusia yang setengah mati itu justru berpotensi menganggu lingkungan dalam waktu relatif panjang, sampai benar-benar yang bersangkutan mati beneran.
Bunuh diri karena iseng, dilakukan oleh para pemabok serta pengguna obat terlarang. Bunuh diri bentuk kedua ini sebagai bunuh diri massal. Dan itu tidak pernah disadari oleh para pelaku.
Bunuh diri struktural banyak dilakukan oleh pihak yang kebetulan memiliki status sosial tertentu. Caranya mengmbil uang/ kekayaan yang bukan haknya. Sebut saja, bunuh diri struktural ini adalah upaya membunuh diri sendiri sekaligus orang lain secara sistemik dan terstruktur.
Terjadinya bunuh diri individual (gandir), massal (minum dan mengkonsumsi obat terlarang), maupun bunuh diri struktural pada prinsipnya bersumber dari ketidakpahaman mengenai eksistensi/ kehadiran manusia di dunia.
Manusia lahir di muka bumi ini hanya ditugasi sebagai: pertama, hamba yang taat, dan kedua, sebagai utusan yang harus menyelamatkan bumi.
Tugas menghamba, ketaatannya tergambar seperti udara (oksigen) yang tidak pernah menolak menjadi pengisi paru-paru.
Tugas utusan, diibaratkan seperti air dari langit yang jatuh ke bumi, menyebabkan tetumbuhan tidak meranggas, tidak kering, melainkan menghijau.
Kekuatan manusia sebagai bumi, geni, banyu, angin, adalah takdir yang harus dinikmati, bukan diingkari. Manusia yang memilih mati bunuh diri baik individual, masasal, maupun struktural adalah mereka yang tidak mempercayai adanya kepastian alam.
Selama kepercayaan itu tidak ada, selama itu pula banyak orang melakukan bunuh diri. Menghentikan bunuh diri individual dan masal maupun struktural caranya cukup jelas.
Sayangnya, orang (termasuk pemerintah) tidak mau memulai. Ya sudah, tiga bentuk bunuh diri terus saja berlanjut.
Penulis: Agung Sedayu













