“Jadi hari ini hewan ternak seperti kambing, sapi, alat pertanian gathul, pacul, luku kita syukuri. Ibarat mesin ini ganti oli, dan harapannya kedepan para petani dalam mengolah tanahnya, alat-alat itu memberi keselamatan, selamat orangnya, dan hasil pertanian melimpah,” ungkap Heri Nugroho.
Senada dengan Heri Nugroho, Ketua Panitia pringatan adat Gumbregan Blimbing, Wakidi menjelaskan, Sanggar Omahku Wacana Tirtomoyo Dusun Blimbing, Desa Karangrejek setiap wuku Gumbreg melaksanakan adat tradisi Gumbregan.
Gumbregan sebagai makna wujud syukur bahwa selama ini petani telah mendapat manfaat dari ternak peliharaannya baik tenaga ternak untuk membajak sawah maupun hasil rupiah ketika ternak dijual.
Selain itu Gumbregan juga memiliki makna permohonan agar ternak yang dipelihara para petani dapat beranak pinak (Jawa: Ngremboko).
“Seperti disampaikan tadi, ini juga sebagai ungkapan permohonan maaf kepada binatang ternak dari manusia. Kalau jaman dulu, petani membajak sawah dengan sapi, bila jalannya kurang cepat biasanya sapi dipecut menggunakan cemeti. Ini simbul bahwa ternak juga mahluk hidup maka manusia berdosa bila tidak minta maaf, ” ungkap Wakidi.
Dalam acara Gumbregan ini, panitia menyediakan seribu ketupat untuk dibagikan dan diperebutkan warga yang hadir. Ag
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…
YOGYAKARTA - KAMIS PAHING, SEJUMLAH wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hari ini diperkirakan…
WONOSARI - KAMIS KLIWON | BDM (58) seorang lelaki pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Dinas…
GUNUNGKIDUL – KAMIS KLIWON | Kecelakaan tragis menimpa seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) di Jalan…
GUNUNGKIDUL - KAMIS KLIWON Setidaknya 1.780 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilarang beroperasi untuk sementara…
YOGYAKARTA - RABU PON | POLRES Bantul resmi menerbitkan Daftar Pencarian Orang atau (DPO) terhadap…