OPINI

INDONESIA DI TEPI JURANG JAHILIYAH MEDIA SOSIAL

DIKUTIP dari berbagai literatur, sesama muslim itu bersaudara. Fakta tak terbantah, di media sosial, sesama muslim bermusuhan. Mereka saling ejek, saling hina. Pun dunia nyata, ada tokoh nasional yang berseteru, tidak saling tegur. Satu tokoh mengajak berjabat tangan, tokoh lain melengos, pura-pura tak melihat. Pertanyaan besar: apakah hubungan antar umat di Indonesia mulai teracuni oleh era jahiliyah media sosial?

The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) melaporkan, bahwa jumlah penduduk muslim di Indonesia diperkirakan mencapai sebanyak 237,56 juta jiwa atau 86,7 %.

Merujuk Sila Ke-3 (Persatuan Indonesia) pola komunikasi bangsa Indonesia mustinya meneguhkan doktrin gotong royong guyup rukun, menjauhi potensi cerai berai.

Seribu empat ratus empat puluh empat tahun silam, umat manusia berada di tepi jurang kehancuran dan kesesatan. Sebab itu mereka diberi petunjuk agar memperkokoh persatuan, kesatuan dan kebersamaan agar memperoleh keselamatan.

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (pada masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara,……..” Ali ‘Imran ayat 103.

Dalam konteks kebudayaan, pepatah Melayu mengajarkan, bahwa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itu selaras dengan crah agawe bubrah, rukun agawe santosa.

Ketika umat gemar bermusuhan dan bercerai berai hadist HR Muslim mengingatkan, rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang di dalamnya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi.

Centang perenang, permusuhan dan cerai berainya umat manusia terjadi karena adanya kebiasaan buruk, bahwa mereka suka saling memperolok satu sama lain.

Dalam Al-Qur’an dipertegas, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, …….”Al-Hujurat ayat 11.

Di Indonesia terjadi, bahwa kelompok satu memberi gelar atau julukan yang tidak pantas terhadap kelompok lain.

Tahun 2014 misalnya, marak sebutan kecebong, kampret, kadrun dan lain sebagainya. Hal ini tidak sesuai dengan amanat Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Dalam hal ini apakah Bangsa Indonesia bisa dikatakan bahwa telah terjerumus ke dalam jurang Jahiliyah Media Sosial?

Harapan besar, bahwa bangsa Indonesia selalu berjalan di bumi dengan rendah hati. Apabila masih ada orang-orang bodoh menggunakan kata bernada menghina, umat yang beriman tidak keberatan mengucapkan salam, agar mereka menyadari kekeliruannya.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Kekeringan Akibat Kemarau Panjang di Gunungkidul Menjadi Perhatian Banyak Pihak

RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…

21 jam ago

KKN IPB Kenalkan Program Tani Hayati di Gunungkidul

WONOSARI - RABU PAHING, Sebanyak 8 (delapan) mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor…

2 hari ago

Polda DIY Raih Penghargaan 12 Satker Predikat Pelayanan Prima & Zona Integritas

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…

1 minggu ago

Kakek 70 Tahun Gantung Diri di Pohon Jambu Mete

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta,  M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…

1 minggu ago

Scoopy Tabrak Ambulan PMI, Satu Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…

1 minggu ago

Mobil Brimob Polda DIY Terserempet KA Bandara

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…

1 minggu ago