NGLIPAR, Rabu Pon–Pasca pengumuman kelulusan SMK/SMA, banyak pelajar yang masih gamang hendak kemana dan berbuat apa. Lulus sekolah menengah sebenarnya bukanlah akhir dari sebuah kewajiban menuntut ilmu. Tetapi masih panjang kisah kehidupan yang harus disongsong alumni sekolah menengah.
Tidak semua siswa SMA/SMK/MA tahu mau kemana setelah lulus sekolah nanti, seperti diceritakan Elis Rahmawati, lulusan dari SMK N 1 Nglipar ini masih bingung untuk menentukan pilihan. Apalagi menurut Elis, setelah lulus sekolah orangtuanya sudah menjodohkan dengan pria pilihan orang tuanya.
“Saya disuruh menikah setelah lulus ini, dijodohkan dengan pilihan orang tua saya,” tutur remaja asal Padukuhan Boyo, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari ini lirih sembari menunduk.
Dengan mata memerah, Elis menyatakan tidak mau untuk segera dinikahkan dan menjadi ibu rumah tangga. Gadis belasan tahun ini berontak dengan hati nuraninya, karena merasa bingung akan kemana setelah lulus ini. Sebenarnya dalam hati kecilnya Elis mempunyai harapan bisa melanjutkan kuliah jurusan perawat walaupun di SMK dia mengambil jurusan Tehnik Komputer Jaringan (TKJ).
“Saya sebenarnya kepengin menjadi perawat, walaupun sekolah saya jurusan Teknik Komputer Jaringan. Pertanyaannya sanggupkah saya menentang keinginan orangtua ?” keluhnya.
Ketika ditanya tentang pernikahannya karena dijodohkan, Elis hanya diam, enggan untuk menjawab lebih jauh. Dia mengaku tidak sesuai dengan kehendaknya yang masih mau mengejar cita-citanya. Apalagi usianya masih masih tergolong remaja yang masih mempunyai kesempatan yang luas baik untuk kuliah ataupun bekerja terlebih dahulu.
Sebenarnya penolakan Elis untuk tidak menikah dulu secara tidak langsung membantu program Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yaitu program penundaan nikah di usia dini. Apalagi belum lama ini Kecamatan Gedangsari sebagai contoh sudah berhasil menekan pernikahan usia dini sehingga meraih penghargaan Top 99 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB) terkait inovasi penundaan pernikahan usia dini.
Keberhasilan Gunungkidul bisa menekan pernikahan usia dini karena kerja keras semua pihak, dari sosialisasi-sosialisasi sampai membuat slogan-slogan, seperti “Gendong tas disik, lagi gendong anak” atau “Gendong Tas Disik, Besok Nembe Gendong Adik Cilik,” dan lain-lain. W Joko Narendro
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…
WONOSARI - SABTU PON, Sebuah tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…
GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…