Categories: PENDIDIKAN

Kakek Hasyim Mati di Pangkuan Cucu, Pada Tongkang Bermesin Tempel

PATUK, MINGGU PAHING – Film dokumenter, menceriterakan pejuang bernama Hasyim yang hidup di perbatasan Indonesia-Malaysia. Tahun 1963, Bung Karno menyatakan perang Dwikora (Dwi Komando Rakyat) karena Malaysia melanggar Perjanjian Manila 1963. Film berdurasi 120 menit diputar Sabtu malam (8/9), di depan ratusan siswa SMP Negeri 2 Patuk.

“Ini bagian dari pendidikan karaker”, kata Kepala Sekolah, Drs. Darno Legowo, dalam sabutan singkat, sebelum film bertajuk “Tanah Surga, Katanya,” mulai diputar.

Kakek Hasyim adalah pejuang tangguh melawan tentara Gurka (tentara bayaran India dan Nepal) yang disewa Kerajaan Inggris, saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.

“Saya tetap tinggal di sini (di Indonesia: red), tidak mau ke Malaysia,” ujar Kakek Hasyim, ketika dibujuk anaknya untuk berpindah dan berdagang di Malaysia.

Bersama Salman, cucu lelakinya, Kakek Hasyim bertahan di pedalaman Kalimantan Utara, meski penyakit sesak nafas (asma) dirasakan tidak kunjung membaik.

Dalam film tersebut digambarkan betapa jomplangnya taraf hidup masyarkat Malaysia dan Indonesia perbatasan. Ekonomi, pendidikan dan kesehatan tidak seimbang. Masyarakat daerah perbatasan benar-benar ketinggalan.

Ketika salah satu pejabat (diperankan Dedy Miswar, turun ke tapal batas, Salman cucu Hasyim sang pejuang membaca puisi sindiran berjudul Kolam Susu.

Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu, katanya.

Kata kakek saya, yang bisa minum susu hanya pejabat yang ada di kota, demikian Salman mengawali deklamasinya.

Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya.

Kata kakek saya, para pejabat menyukai udang di balik batu.

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tananaman, katanya.

Kata kakek saya, lanjut Slaman, para pejabat itulah yang suka makan batu dan kayu.

Sindiran panas meluncur dari mulut cucu seorang pejuang tulen. Akhir film ini, Hasyim menghembuskan nafas terakhir saat dibawa ke rumah sakit dengan perahu tongkang.

Sebelum meninggal di malam hari, dalam perahu bermesin tempel, Hasyim berpesan, “Salman, simpan Indonesia di hatimu. La illa haillaloh”.

Mata Hasyim pun terkatup. Kepalanya bersandar di pelukan dan pangkuan Salman. (Bewe/ig)

infogunungkidul

Recent Posts

Kapolda DIY Imbau Masyarakat Tak Mudah Terprovokasi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, Kepolisian Daerah (Polda) DI. Yogyakarta menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, tidak…

11 jam ago

Ratusan Mahasiswa UNY Ikuti Wisuda Periode Oktober 2026

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, SEBANYAK 876 mahasiswa Negeri Yogyakarta (UNY) mengikuti wisuda lulusan program Doktor,…

12 jam ago

Mencuri Motor, Warga Gunungkidul Ditangkap Polisi

BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…

2 hari ago

Lemot Buka Rekam Medis, RSUD Wonosari Disomasi

GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…

3 hari ago

Keluarga Besar Partai Golkar Berduka, Tokoh Politik Senior Berpulang

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…

4 hari ago

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

6 hari ago